Scroll untuk baca artikel
DumaiEconomyRiau

Jepang Bidik Dumai, Tertarik Bangun Dermaga Ekspor CPO

×

Jepang Bidik Dumai, Tertarik Bangun Dermaga Ekspor CPO

Sebarkan artikel ini

PEKANBARU (MDC) – Pemerintah Jepang menyatakan ketertarikannya untuk terlibat dalam pembangunan dermaga ekspor crude palm oil (CPO) di Pelabuhan Dumai.

Ketertarikan ini mengemuka dalam kunjungan Konsulat Jenderal Jepang ke Provinsi Riau, Senin, 19 Januari 2025. Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan bilateral yang telah terjalin lama antara Jepang dan Riau, terutama di bidang infrastruktur, lingkungan, industri, serta pendidikan.

Konsul Jenderal Jepang, Furugori Toru, menyampaikan bahwa Jepang berharap kerja sama dengan Provinsi Riau dapat terus berlanjut dan berkembang secara berkelanjutan.

Salah satu bentuk dukungan konkret yang disampaikan adalah keterlibatan Pemerintah Jepang dalam rencana pembangunan dermaga ekspor CPO di Pelabuhan Dumai.

Menurut Furugori, proyek dermaga tersebut diharapkan mampu memperkuat sistem logistik ekspor kelapa sawit, sekaligus mendukung peningkatan nilai tambah komoditas unggulan Riau di pasar global. Dumai dinilai memiliki posisi strategis sebagai pintu ekspor, khususnya untuk komoditas CPO.

Selain sektor pelabuhan, Jepang juga telah menjalankan berbagai kerja sama lain di Provinsi Riau. Di antaranya, Proyek Peningkatan Kualitas Air Ledeng di Kabupaten Bengkalis melalui kerja sama dengan Kota Ube, Prefektur Yamaguchi.

Kerja sama antarkota juga terjalin antara Kota Kawasaki dengan Kota Pekanbaru serta Kabupaten Rokan Hulu dalam penyusunan rencana dekarbonisasi dan pemanfaatan limbah dari produksi kelapa sawit selama periode 2019–2024.

Kerja sama yang masih berlangsung saat ini mencakup Proyek Pengendalian Banjir Fase II di Kota Pekanbaru. Proyek tersebut meliputi pemasangan stasiun pompa drainase, renovasi bendungan, perluasan saluran drainase, serta perbaikan tanggul, yang dimulai sejak 2020 dan ditargetkan rampung pada September 2027.

Di bidang lingkungan, Jepang juga terlibat dalam Program Gerakan Masyarakat dalam Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Program JICA).

Bahkan, sebuah perusahaan asal Prefektur Ehime tengah melakukan uji coba bersama PTPN V di Kabupaten Kampar untuk mengembangkan sistem pengolahan limbah pabrik kelapa sawit berteknologi tinggi.

Sementara itu, kerja sama di bidang pendidikan terus diperkuat. Lebih dari 9.000 siswa tingkat SMP di Riau saat ini mempelajari bahasa Jepang. Selain itu, seorang tenaga ahli JICA bidang pendidikan bahasa Jepang ditugaskan di Universitas Riau. Kerja sama akademik juga terjalin antara Universitas Kyoto dan Universitas Riau dalam proyek pemulihan lahan gambut.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyambut baik ketertarikan Jepang untuk berinvestasi dan memperluas kerja sama di daerah ini. Ia menegaskan bahwa Pemprov Riau mendukung penuh setiap bentuk kolaborasi yang berdampak langsung pada pembangunan daerah.

Pemprov Riau juga menawarkan peluang investasi di kawasan industri yang telah diajukan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Menurut Syahrial, pihak Jepang menyatakan minat untuk turut berinvestasi di kawasan tersebut.

Meski demikian, Syahrial Abdi berharap kerja sama, khususnya di bidang pendidikan dan pemulihan lahan gambut, tidak hanya terpusat di Universitas Riau.

Ia mendorong agar hasil kerja sama dapat diperluas hingga ke perguruan tinggi lain di kabupaten dan kota.

“Dengan luasnya kawasan gambut di Riau, kerja sama ini harus memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi seluruh daerah,” tutupnya. (kam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *