Di tanah pesisir yang sejak berabad-abad menjadi saksi persinggahan kapal niaga dan peradaban, sebuah langkah besar kembali lahir dari budi seorang anak negeri.
HIBAH tanah seluas 245,5 hektare dari tokoh masyarakat Dumai, Junaidi Zhang (Ayu Junaidi), untuk pembangunan Markas Komando Grup 3 Kopassus, telah menggugah gelombang apresiasi dari berbagai lapisan masyarakat Riau.
Langkah itu bukan hanya tentang kepemilikan lahan yang berpindah, tetapi tentang semangat yang menyala, jiwa yang terpanggil, dan niat besar yang ditanamkan untuk negeri.
Tanah yang dihibahkan itu kelak menjadi tempat para prajurit terlatih menjalankan tugas di garis depan pertahanan Indonesia.
Lebih dari itu, ia menjadi simbol bahwa Dumai, kota di gerbang Selat Malaka, kembali meneguhkan dirinya sebagai wilayah strategis yang tak hanya berdiri untuk industri dan perdagangan, tetapi juga penjaga maritim Nusantara.
Ketua Umum MKA LAMR Riau, Datuk Seri H. Marjohan Yusuf, menyambut hibah tersebut dengan rasa bangga yang tak disembunyikan.

Baginya, langkah ini tidak hanya mencerminkan kemurahan hati seorang tokoh masyarakat, tetapi juga perwujudan nilai luhur Melayu yang sejak lama menempatkan budi sebagai puncak kehormatan.
“Orang Melayu percaya, kebaikan tidak pernah hilang arah. Ia akan selalu dikenang, sebagaimana petuah lama berkata: hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati,” ucapnya penuh makna.
Ia menegaskan bahwa Ayu Junaidi bukan sosok baru dalam kiprah pembangunan. Dari pengadaan lahan DMDI hingga bantuan sosial yang tak terhitung jumlahnya, rekam jejaknya adalah bukti bahwa kebaikan bisa diwariskan tanpa harus ditonjolkan.
“Ketika seorang anak negeri memberi untuk negeri, sesungguhnya ia sedang memperluas keberkahan bagi tanah kelahirannya,” tambah Datuk Seri Marjohan.
Dari generasi muda, pujian datang dari Ketua DPD KNPI Riau, Fuad Santoso. Ia menyebut hibah lahan ini sebagai bukti bahwa kepedulian terhadap negara tidak harus selalu melalui jabatan, tetapi bisa melalui tindakan nyata yang berdampak luas.

“Hibah ini bukan hanya memperkuat pertahanan nasional. Ia akan menghadirkan peluang ekonomi bagi ribuan warga, menggerakkan roda kehidupan di Dumai,” ujarnya.
Fuad menggambarkan bahwa kehadiran satuan elite Kopassus di Dumai bukan sekadar penempatan militer, melainkan denyut baru bagi perekonomian.
Pergerakan personel, tumbuhnya kegiatan usaha, hingga pembangunan kawasan Basilam Baru—semua menjadi lingkaran manfaat yang lahir dari satu tindakan budi.
Ia menyebut Junaidi sebagai figur yang “membantu tanpa bertanya siapa,” sebuah karakter yang menurutnya patut diteladani oleh generasi kapan pun.
Ketua Umum FPK–LKKMD, Chandra Abdul Gani (Ichan AG), menyatakan bahwa langkah Junaidi adalah cermin sejati keberagaman Riau.

Dalam dirinya melekat identitas Tionghoa Dumai, tetapi tangannya bergerak untuk kepentingan seluruh masyarakat, melampaui sekat-sekat primordial yang kadang memecah.
“Kami bangga. Sebagai bagian dari 17 kesukuan dan paguyuban, Pak Ayu Junaidi telah menunjukkan bahwa kecintaan pada negeri adalah bahasa yang dipahami oleh semua orang,” ujarnya.
Menurut Ichan, pembangunan Mako Kopassus menjadi babak baru bagi kawasan Sungai Sembilan. Ia menilai hadirnya markas militer akan menjadi magnet pertumbuhan, membuka jalan bagi investasi dan infrastruktur, serta mempercepat terwujudnya cita-cita besar pembentukan Wilayah Riau Pesisir.
“Di tengah perbedaan pendapat masyarakat, kami melihat manfaat jangka panjangnya sangat besar. Dari tanah pesisir ini, harapan baru bisa tumbuh,” ucapnya.
FPK–LKKMD bahkan berharap putra-putri Dumai kelak mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari pasukan elite tersebut—sebuah mimpi yang menempatkan anak daerah dalam barisan penjaga Ibu Pertiwi.
Sementara itu, KNPI Kota Dumai menegaskan bahwa hibah tanah ini sejalan dengan cita-cita besar menjadikan Dumai sebagai kota “IDAMAN”—industri, perdagangan, dan pertahanan maritim. Ketua KNPI Dumai, Nanda Aulia Rahmat, menyebut bahwa langkah ini mengukuhkan peta strategis Dumai di jalur perairan internasional.

“Dumai bukan lagi hanya kota industri. Dumai adalah benteng penjaga negeri,” ujarnya mantap.
Menurutnya, kehadiran Kopassus akan memperkokoh keamanan, membuka ruang pembangunan baru, serta membangun kepercayaan investor. Ia menyampaikan terima kasih kepada Junaidi dan apresiasi kepada Kopassus yang memercayakan Dumai sebagai titik pangkal kekuatan.
Ketua MPC Pemuda Pancasila Dumai, Abdul Kadir (Robi), menilai hibah tanah ini sebagai langkah moral yang pantas dicatat dalam sejarah daerah. Baginya, kontribusi untuk pertahanan negara adalah bentuk tertinggi pengabdian masyarakat.

“Ini bukan langkah kecil. Ini pondasi bagi kemajuan Sungai Sembilan. Kita mendukung dan siap memayungi pembangunan ini demi masa depan Dumai,” ucapnya.
Robi menilai kehadiran Mako Kopassus kelak akan menjadi energi baru bagi masyarakat lokal: meningkatkan keamanan pesisir, membuka peluang ekonomi, hingga mempercepat tumbuhnya pusat-pusat permukiman dan aktivitas usaha.
Semua suara yang mengalir menunjukkan bahwa hibah lahan ini bukan sekadar peristiwa administratif. Ia adalah jejak budi, isyarat persatuan, dan penanda kebangkitan di Pesisir Timur Provinsi Riau.
Tanah yang dihibahkan Ayu Junaidi itu kelak akan menjadi tempat prajurit-prajurit terbaik bangsa mengokohkan benteng Nusantara. Namun bagi masyarakat Riau, tanah itu jauh lebih dari sekadar markas militer. Ia adalah simbol bahwa kebaikan masih hidup, gotong royong masih bernafas, dan budi masih menjadi bahasa bersama antara pemerintah, masyarakat, dan negeri.
Dumai telah melangkah ke babak sejarah yang lebih terang. Dan semuanya dimulai dari satu tindakan sederhana yang dipikul oleh jiwa besar. Tindakan memberi. (*)































