Hibah tanah dari tokoh masyarakat Dumai, Junaidi Zhang (Ayu Junaidi) seluas 245,5 hektare untuk pembangunan Markas Komando Grup 3 Kopassus mengundang decak kagum dan gelombang apresiasi. Tak hanya bagi masyarakat Kota Dumai, juga nasional. Tak sedikit pula yang bertanya, benarkah hanya sekedar ingin membantu negara sebagaimana pernah Ia ucapkan?
KEDAI Kopi Murni di Jalan Pangeran Diponegoro (dulu Jalan Sukajadi), Jumat pagi tanggal 12 Desember 2025 terlihat ramai. Memang seperti itulah suasana kedai kopi yang sudah berusia lebih dari 4 dekade tersebut. Terutama antara pukul 06.30 hingga 10.30.WIB.
Seperti pagi itu. Hampir semua meja dan kursi terisi. Ada yang hanya sekedar minum kopi. Tak sedikit yang tengah menikmati makanan khas kedai kopi tersebut.
Minum kopi pagi di Kedai Kopi legend di Dumai ini sepertinya sudah menjadi rutinitas Ayu Junaidi setiap pagi. Mungkin karena rumahnya tak jauh dari kedai kopi tersebut. Hanya sepelemparan batu.
Di meja itu, Ayu Junaidi juga biasa bertemu dengan siapa saja yang berurusan dengannya. Termasuk ketika pagi itu Ia menerima sahabatnya dari Singapura dan ustadz Zulfikar.
Hafal dengan menu yang diinginkan Ayu Junaidi. Segelas kopi dan sepiring juadah langsung terhidang di meja ketika tak lama Ia sampai.
“Saya bukan siapa-siapa. Ngopi, sarapan dan bertemu kawan-kawan di kedai kopi kampung. Tak pernah di kafe. Apalagi di hotel,” katanya membuka pembicaraan ketika mediadumai.com menghampirinya.
Sosok yang sederhana dan low profile ini memang tengah jadi perbincangan. Itu setelah iya menghibahkan 245,5 hektar tanah miliknya kepada negara untuk keperluan pembangunan Markas Group 3 Kopassus.
“Tanahnya memang luas. Nilainya juga besar. Jika per meter dihargai Rp50 ribu saja, nilainya lebih dari 100 Milyar. Kalau saya wariskan kepada anak, nilainya hanya sebatas pada keluarga. Tidak menjadi sejarah,” katanya.
Ia pun bercerita tentang asal usul tanah yang Ia hibahkan untuk Markas Group 3 Kopassus. Yang katanya memiliki sejarah cukup panjang. Terutama yang diserahkan pada tahap pertama seluas 142 hektar pada Sabtu, 22 Novenber 2025.
“Tanah tersebut saya beli sejak tahun 2002 hingga 2006. Dari cucu cicit Syekh Umar yang telah lama mengausai tanah tersebut,” kata Ayu Junaidi.
Di kawasan tersebut, dahulunya tempat bermukim keluarga besar Syekh Umar dan Latip. Tempat tesebut ditinggalkan seiring mulai berkembangnya Kota Dumai pada tahun 50 an.
“Ada sejarah masa lalu di sana. Dengan saya serahkan ke negara untuk Markas Kopassus, akan ada sejarah baru di sana. Dan saya akan menjadi bagian dari sejarah itu,” papar pria berusia 73 tahun itu.
Catatan sejarah itu, yang pertama adalah kehadiran group 3 Kopassus di Dumai. Ini adalah group Kopassus yang pertama dan satu-satunya di Sumatera.
“Group tiga ini dipimpin oleh komandan berpangkat Brigadir Jendral. Selama ini belum ada kesatuan yang dipimpin oleh orang yang berpangkat jendral. Ini adalah catatan sejarah,” lanjut Ayu Junaidi.
Jumlah prajurit yang akan ditempatkan di group 3 Kopassus yang berada di Basilam Baru Kecamatan Sungai Sembilan itu sekitar 1.800 personil. Belum termasuk anggota keluarga yang ikut diboyong.
“Bisa dibayangkan jika satu prajurit membelanjakan uangnya di wilayah itu rata-rata 2 juga sebulan. Kalikan saja berapa perputaran uang di sana. Saya yakin kesejahteraan masyarakat setempat,” tambah Ayu Junaidi.
Belum lagi multiplier effecnya bagi perkembangan wilayah. Keberadaan Markas Group 3 Kopassus tersebut membutuhkan infrastruktur penunjang seperti jalan, pasar, sekolah dan lain-lain.
“Saya yakin penyelesaian pembangunan jalan Dumai – Sinaboi akan dipercepat. Begitu juga kebutuhan tambahan ruang belajar atau sekolah di sana yang selama ini banyak dikeluhkan masyarakat setempat,” lanjut Ayu Junaidi.
Dengan dampak positif pembangunan Markas Group 3 Kopassus tersebut, lanjut Ayu Junaidi, apa yang Ia berikan kepada negara menjadi tak seberapa nilainya.
Di meja nomor 16, kopi tinggal setengah. Kedai tetap ramai. Percakapan mengalir seperti biasa. Ayu Junaidi menyesap cangkirnya, kembali menjadi bagian dari rutinitas pagi yang sederhana.
Namun di luar kedai kopi tua itu, sebidang tanah tengah bersiap mencatat bab baru. Tentang pengabdian, tentang kota, dan tentang seorang lelaki yang memilih meninggalkan warisan bukan dalam bentuk nama keluarga, melainkan jejak sejarah untuk negeri. (*)































