DI BALIK suara mesin dan denting besi di lantai pengeboran, ada cerita tentang anak-anak muda yang sedang mencari jalan menuju masa depan. Mereka datang dari daerah dan latar belakang berbeda. Ada yang sejak kecil sudah melihat aktivitas rig dari dekat, ada pula yang sebelumnya sama sekali tidak membayangkan akan bekerja di dunia pengeboran.
Kesempatan itu mempertemukan mereka dalam satu program. Belajar, mendapatkan sertifikasi dan mencoba masuk ke dunia kerja yang selama ini hanya mereka lihat dari luar.
KAMBALI – mediadumai.com, Duri
Siang Selasa, 29 September 2026, matahari terasa terik. Di Area DSF 4E-0605 Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, masker menjadi perlengkapan yang tak boleh dilepas. Asap akibat pembakaran hutan membuat udara terasa berat.
Jarak lokasi sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat ibu kota Kecamatan Mandau. Namun, perjalanan sekitar 36 kilometer terasa lebih panjang karena kendaraan harus melaju dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.
Di tengah udara yang dipenuhi asap, aktivitas di sebuah rig pengeboran tetap berjalan.
Di lokasi itu, para pekerja Rig PDSI #35.1/PD350/E baru saja menyelesaikan satu tahapan pekerjaan pengeboran. Pipa-pipa pengeboran tengah dicabut dari dalam sumur.
Pekerjaan itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Setiap gerakan harus mengikuti prosedur dan dikoordinasikan antarpekerja.
Di antara para pekerja itu, seorang pemuda 24 tahun terlihat menjalankan tugas sebagai floorman. Ia masih dalam tahap magang dan bekerja di bawah arahan mandor serta pengawas. Warna helm hijau yang dipakainya menjadi penanda bahwa ia masih dalam tahap belajar.
Namanya Wirandi.
Pemuda asal Kilometer 26 RT 01/RW 02 Meranti, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, itu mungkin tidak pernah membayangkan gelar sarjana Pendidikan Biologi yang diraihnya dari Universitas Lancang Kuning (Unilak) dengan IPK 3,56 akan membawanya ke lantai bor.
Namun, dunia kerja tidak selalu berjalan mengikuti jurusan pendidikan. Ketika kesempatan datang, Wirandi memilih mencoba.
“Sebagai anak Riau, saya memang sangat menginginkan bekerja di migas, terutama di rig,” katanya.
Wirandi mengetahui Program Penguatan Ekosistem Vokasi Riau bidang drilling melalui sosialisasi yang dilakukan dari tingkat kecamatan hingga RT.
PHR menggandeng Universitas Muhammadiyah Riau sebagai pihak ketiga dalam proses sosialisasi. Informasi mengenai program itu kemudian diteruskan kepada masyarakat.
“Saya tahu dari sosialisasi. RT mendapat informasi dari kecamatan, kemudian RT menyampaikan kepada kami tentang program vokasi untuk Floorman,” ujarnya.
Ia kemudian melihat brosur program yang dibagikan melalui grup WhatsApp warga.
Wirandi tertarik dan mendaftarkan diri. Persyaratan seperti surat keterangan tidak mampu dan surat domisili dipenuhinya.
Ia merupakan warga ring 1 PHR.
“Saya berada di ring 1 PHR, tepatnya di Kecamatan Minas, wilayah Meranti,” katanya.
Tetapi status sebagai warga ring 1 bukan berarti langsung diterima. Wirandi tetap harus mengikuti psikotes, wawancara hingga pemeriksaan kesehatan.
Dari seluruh peserta yang mengikuti proses seleksi floorman, sekitar 50 orang masuk tahap wawancara. Hingga akhirnya 24 peserta dinyatakan terpilih untuk bidang Floorman.
Setelah mendapatkan persetujuan dokter PDSI, Wirandi bersama peserta lainnya berangkat ke Indramayu, Jawa Barat.
Seleksi peserta dilakukan melalui sosialisasi, Computer Based Test (CBT) dan wawancara bersama AKA Migas Palembang.
Pada 23 Agustus 2025, sebanyak 60 pemuda dari 23 desa dan kelurahan di sekitar wilayah operasi PHR yang tersebar di enam kabupaten/kota di Riau diberangkatkan dari Pekanbaru menuju Indonesia Drilling Training Center (IDTC), Indramayu.
Mereka dipersiapkan untuk sejumlah kompetensi drilling. Dalam keseluruhan program 2025, terdapat 60 peserta yang terdiri atas 24 roustabout, 12 motorist dan 24 floorman.
Di IDTC, peserta tidak hanya belajar di ruang kelas. Mereka diperkenalkan dengan lingkungan kerja drilling melalui teori, praktik dan simulasi.
Wirandi mempelajari Rig Move-up-Down, Rig Hoisting System, Rig Rotating System, Rig BOP System, Handling Tools, Casing, Tubular Goods, Basic Well Control hingga Well Completion.
Ia juga mempelajari pipe handling dan tripping operation, termasuk Running in Hole (RIH) dan Pulling Out of Hole (POOH).
Lima sistem utama rig, yakni hoisting, rotating, power, circulation dan BOP, menjadi bagian dari pembelajaran.
“Selama tiga bulan kami belajar tentang program Floorman, apa saja yang dikerjakan di rig. Banyak yang diajarkan, mulai dari teori, keselamatan, sampai barang-barang yang ada di rig,” tutur Wirandi.
Keselamatan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pelatihan. Peserta dibiasakan mengikuti toolbox meeting, memahami Job Safety Analysis (JSA), menggunakan alat pelindung diri, mengikuti Safety Induction, memahami HSE Golden Rules serta penerapan Permit to Work (PTW) dan SIKA.
Dari pelatihan tersebut, Wirandi memperoleh sertifikasi Operator Lantai Bor dari LSP Pertamina, Rigger/Lifting and Rigging dari PPSDM Migas Cepu serta Basic HSSE.
Kompetensinya mencakup K3, SIKA/JSA, persiapan hoisting system, pipe handling, pemeliharaan peralatan drilling, BOP dan basic well control.
Tetapi teori di ruang kelas tentu berbeda ketika berhadapan langsung dengan rig.
“Pertama kali masuk rig saya masih meraba-raba. Ini apa, itu apa. Saya tahu barangnya, tetapi sistem kerjanya belum tahu,” katanya.
Ia kemudian belajar secara bertahap dengan pendampingan mandor, pengawas dan mentor Ali Akbar.
“Apapun yang saya kerjakan pasti dimentori dan diawasi,” ujarnya.
Pelan-pelan, pekerjaan yang sebelumnya hanya dikenalnya dari teori mulai dipahaminya.
“Saya jadi tahu bagaimana minyak itu bisa keluar dari dalam perut bumi. Apa saja proses yang dilaksanakan dalam proses pengeboran, dari pengeboran, cabut, masuk lagi, casing, sampai keluar minyak dan kemudian test pumping,” katanya.
Pengalaman itu juga membuatnya memahami bahwa bekerja di lantai bor bukan pekerjaan ringan.
“Semua pekerjaan di sini sangat berisiko karena pekerjaan yang dilakukan termasuk critical job,” ujarnya.
Menurutnya, pekerjaan sebagai floorman membutuhkan kompetensi khusus.
“Floorman itu tidak sembarang orang bisa bekerja di lantai bor. Setiap jabatan memiliki kompetensinya masing-masing,” katanya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Putra Albiansyah, peserta asal Kelurahan Batang Serosa, Kecamatan Mandau.
Bagi Putra, pelatihan di IDTC memberinya kesempatan untuk mengenal lingkungan pembelajaran drilling dengan fasilitas yang mendukung.
“Saya senang berada di sini. Fasilitasnya bagus,” ujarnya.
Di balik kesan sederhana itu, Putra dan peserta lainnya harus menjalani rutinitas pelatihan yang disiplin. Mulai dari pembelajaran teori, praktik hingga penerapan keselamatan kerja.
IDTC menjadi tempat bagi mereka untuk mempersiapkan diri sebelum berhadapan langsung dengan lingkungan industri.
Cerita lain datang dari Chandra Setiawan, pemuda asal Balam KM 15, Kabupaten Rokan Hilir.
Putra daerah berdarah Sakai ini sebenarnya telah akrab dengan aktivitas rig sejak 2023. Ia membantu ibunya berjualan di sekitar kawasan rig.
Hampir setiap hari ia melihat aktivitas pengeboran dari luar. Namun, berada di luar pagar dan menjadi bagian dari pekerjaan di dalamnya adalah dua pengalaman berbeda.
Chandra kemudian mengikuti program vokasi dan menjalani pelatihan di IDTC sekitar dua bulan.
Teori dan praktik tidak selalu mudah. Ia bahkan sempat hampir menyerah. Namun, dukungan keluarga membuatnya bertahan hingga menyelesaikan pelatihan.
Kesempatan berikutnya datang pada April 2026 ketika Chandra dipanggil untuk bekerja di rig PDSI.
Bagi Chandra, itu menjadi pengalaman yang berbeda. Pemuda yang sebelumnya membantu ibunya berjualan di sekitar rig kini mendapat kesempatan bekerja di lingkungan industri yang selama ini hanya dilihatnya dari luar.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat mendorong anak-anak muda Sakai lainnya untuk berani mengambil kesempatan dan meningkatkan keterampilan.
Cerita Wirandi, Putra dan Chandra tidak berdiri sendiri. Mereka merupakan bagian Program Penguatan Ekosistem Vokasi Riau bidang drilling kolaborasi PHR dan PDSI. Sebuah program yang dirancang untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan tenaga terampil di industri migas.
SR. Officer Corporate & Institutional Development (CID) PHR, R. Muhammad Wildan, mengatakan kerja sama tersebut diawali dengan asesmen pada 2025 untuk memetakan kompetensi yang dibutuhkan industri.
“Dengan MoU antara PT PHR dan PDSI ini, kami berharap kebutuhan pekerja dari dunia migas, khususnya tenaga terampil, dapat terpenuhi,” ujarnya.
Pada awalnya, kebutuhan yang muncul adalah pelatihan sekaligus sertifikasi. Namun, setelah disesuaikan dengan ruang lingkup CSR, program diarahkan kepada masyarakat yang belum bekerja.
“Jadi kami fokus kepada orang yang belum bekerja,” kata Wildan.
Masyarakat ring 1 menjadi prioritas karena berada paling dekat dengan wilayah operasi. Meski demikian, kesempatan tetap dibuka lebih luas. Hasilnya, sekitar 30 persen peserta berasal dari ring 1.
Seleksi juga tidak hanya mempertimbangkan nilai tes tertulis.
“Kami harus menyeimbangkan antara tes tertulis dan wawancara. Kami tidak memaksakan juga. Artinya, semua orang punya hak yang sama,” ujarnya.
Setelah pelatihan sekitar dua hingga tiga bulan, peserta menjalani magang di lingkungan PDSI sekitar empat bulan.
Menurut Wildan, magang penting untuk memperkenalkan peserta kepada budaya kerja industri.
“Magang itu memang penting juga. Tidak serta-merta mereka setelah lulus langsung bekerja di dunia industri. Harus ada suatu pengenalan,” katanya.
Kesempatan kerja kemudian terbuka melalui proyek baru IDEST yang melibatkan empat rig PDSI, selain rekrutmen dari rig yang sudah beroperasi.
“Alhamdulillah, ternyata di sini ada suatu program project baru, namanya IDEST, yaitu project pemboran dengan empat rig dari PDSI. Sebenarnya rekrutmen itu banyak dari rig tersebut. Selain dari rig yang baru, ada juga dari rig yang lama,” jelasnya.
Dari 60 peserta program vokasi migas 2025, sebanyak 51 orang telah bekerja.
“Dari 60 orang itu, 51 orang sudah bekerja,” ujarnya.
Corporate Secretary PHR Eviyanti Rofraida mengatakan pengembangan kompetensi anak muda merupakan bagian penting dalam menyiapkan keberlanjutan industri migas.
“Kita harus menyiapkan generasi muda dalam melanjutkan operasi migas di segala lini. Mulai dari level teknis hingga manajerial, kami ambil yang terbaik dari sisi kompetensi,” katanya saat acara peluncuran Program Penguatan Ekosistem Vokasi Riau yang diselenggarakan di Indonesia Drilling Training Center (IDTC) Pertamina Drilling, Indramayu, Jawa Barat.
VP Corporate Secretary & Legal Counsel PDSI Rian Dhanisaputra mengatakan IDTC sejak awal dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas tim PDSI di lapangan sekaligus menjadi pusat uji kompetensi dan sertifikasi.
Hampir dua dekade, IDTC berperan dalam pengembangan kapasitas pekerja hulu migas.
“Kini semakin berkembang, kami siap mendukung program vokasi PHR, terima kasih atas kepercayaannya,” ujar Rian.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja Provinsi Riau Bambang Rusdianto berharap peserta yang telah dilatih dapat terserap sesuai kompetensinya.
“Sesuai amanat Gubernur, kita kurangi pengangguran dan tingkatkan tenaga kerja,” katanya.
Manager Community Involvement & Development PHR Iwan Ridwan Faizal saat pelepasan program vokasi bagi pemuda Riau tahun lalu menegaskan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan meningkatkan kualitas SDM lokal.
“Program ini adalah wujud komitmen PHR untuk turut berkontribusi dalam meningkatkan SDM lokal di Provinsi Riau. Kami berharap dengan kolaborasi yang solid, menyiapkan kesempatan bagi para pemuda ini untuk mengasah dan membekali diri dengan keterampilan hingga nanti kembali ke Riau dengan kompetensi tinggi dan siap berkontribusi pada pembangunan daerah,” ujarnya.
Melalui pendekatan Creating Shared Value, program ini mempertemukan beberapa kepentingan sekaligus. Masyarakat mendapatkan keterampilan, peserta memperoleh pengalaman menuju dunia kerja, industri mendapatkan tenaga terampil, sementara pemerintah memiliki mitra dalam pengembangan tenaga kerja.
Bagi Wirandi, perjalanan itu juga menjadi perubahan arah dalam kariernya.
Ia pernah menjadi Ketua BEM Fakultas, mengelola lebih dari 10 program dan anggaran sekitar Rp80 juta. Ia juga pernah menjadi Ketua Pelaksana FADIKSI Mengabdi di Desa Sibiruang, Kampar, dengan sekitar 80 anggota kepanitiaan.
Sebelum masuk dunia drilling, ia bekerja sebagai enumerator lapangan. Pengalaman tersebut memberinya kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengumpulkan dan memverifikasi data, mengambil keputusan serta beradaptasi di lapangan.
Kini semua pengalaman itu menjadi bagian dari pekerjaan barunya.
Ia masih harus belajar dan masih memiliki jenjang yang ingin dicapai.
“Kalau ada kesempatan dan ilmu saya sudah lebih banyak, saya ingin naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” katanya.
Ia juga berharap pengalaman yang diperolehnya dapat memacu masyarakat di daerah asalnya untuk meningkatkan keterampilan.
“Harapan saya, masyarakat di daerah saya semakin terpacu untuk meningkatkan skill,” ujarnya.
Bagi Wirandi, kesempatan tersebut tidak datang langsung dalam bentuk pekerjaan.
Awalnya berupa informasi. Kemudian pelatihan, sertifikasi dan magang. Setelah itu, barulah terbuka kesempatan untuk mengenal pekerjaan secara langsung di rig.
Ia juga mengingat satu hal yang menurutnya penting diketahui masyarakat.
“Tidak ada pungutan apapun untuk masuk program vokasi ini. PHR membantu saya, PDSI mendidik saya selama tiga bulan di Indramayu,” katanya.
Di balik perjalanan itu ada keluarga yang ikut menopangnya. Wirandi merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya dahulu bekerja sebagai sopir oplet dan kini sudah tidak bekerja. Sementara ibunya berjualan sarapan untuk membantu perekonomian keluarga.
Ia sendiri pernah mendapatkan beasiswa BAZNAS Provinsi Riau melalui program tahfidz hingga menyelesaikan pendidikan sarjana.
Kini, ia berdiri di lantai bor. Bukan lagi sebagai orang yang hanya melihat aktivitas migas dari kejauhan, tetapi sebagai bagian dari pekerjaan yang dijalaninya sendiri.
Chandra membawa cerita berbeda dari Balam. Anak daerah berdarah Sakai yang sebelumnya melihat rig dari luar pagar, kini mendapat kesempatan bekerja di dalamnya.
Putra pun menjalani perjalanan yang sama bersama puluhan anak muda lainnya.
Mereka datang dengan latar belakang berbeda. Yang sama adalah kesempatan untuk belajar dan mendapatkan keterampilan. Dan program vokasi menjadi salah satu jalan untuk mengenal dunia tersebut lebih dekat.
Dari desa, mereka berangkat ke ruang pelatihan. Dari sana mereka mengenal teori dan praktik, kemudian menjalani magang hingga akhirnya mendapat kesempatan berada di rig.
Mereka yang sebelumnya hanya melihat aktivitas pengeboran dari luar, kini mulai menjadi bagian dari pekerjaan di dalamnya.
Dan ketika pulang bekerja , mereka tidak hanya membawa pengalaman. Ada keterampilan, cerita tentang bagaimana sebuah kesempatan mengubah arah perjalanan mereka dan kebanggaan serta kehormatan ikut menjaga energi negeri tetap terpenuhi. (*)
































