DUMAI (MDC) — Kabut asap tebal menyelimuti wilayah Kota Dumai, Rabu (7/10/2026) sejak pagi. Kondisi tersebut membuat jarak pandang terbatas dan kualitas udara memburuk hingga mendorong Pemerintah Kota Dumai mengambil keputusan terkait kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Berdasarkan pemantauan laman The Weather Channel, kualitas udara Kota Dumai pada Rabu pagi berada di angka 221, masuk kategori Sangat Tidak Sehat. Polutan utama yang terpantau adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 165,22 µg/m³.
The Weather Channel juga memberikan peringatan kesehatan untuk kondisi darurat. Seluruh populasi disebut berpotensi terdampak oleh buruknya kualitas udara tersebut.
Kabut asap yang muncul sejak pagi membuat sejumlah kawasan Kota Dumai terlihat samar. Kondisi ini juga menjadi perhatian masyarakat dan ramai diperbincangkan melalui media sosial serta grup percakapan warga.
Di tengah kondisi tersebut, BPBD Kota Dumai memastikan tidak terdapat kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang sedang ditangani di wilayah Kota Dumai.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Dumai, Wahyu Wicaksono, mengatakan kondisi Karhutla di wilayah Dumai saat ini terkendali.
Sementara kabut asap yang dirasakan masyarakat diduga dipengaruhi oleh pergerakan asap dari wilayah lain di luar Kota Dumai, seiring dengan kondisi angin dan atmosfer di wilayah Sumatera.
“Kami terus melakukan pemantauan terhadap kondisi di wilayah Kota Dumai. Sampai saat ini tidak terdapat Karhutla yang sedang ditangani. Meskipun demikian, adanya kabut asap tetap perlu kita waspadai, karena asap dapat terbawa angin dari wilayah lain,” ujar Wahyu.
Menurutnya, nihilnya kejadian Karhutla di Dumai bukan berarti kewaspadaan diturunkan. BPBD bersama unsur terkait tetap melakukan pemantauan terhadap wilayah yang memiliki potensi rawan Karhutla dan siap melakukan penanganan apabila ditemukan indikasi kebakaran.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. Warga juga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran.
Memburuknya kualitas udara turut menjadi pertimbangan Pemerintah Kota Dumai dalam mengambil kebijakan terhadap kegiatan belajar mengajar.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, Mukhlis Suzantri, membenarkan adanya penyesuaian kegiatan belajar mengajar menyusul kondisi udara tersebut.
Ia menjelaskan, sekolah yang tidak menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) langsung diliburkan. Sementara sekolah yang menerima MBG tetap melaksanakan kegiatan hingga peserta didik selesai menerima makanan, kemudian dipulangkan untuk mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
“Sekolah yang tidak nerima MBG langsung diliburkan, kemudian yang nerima MBG selesai makan langsung dipulangkan dan belajar PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh),” ujar Mukhlis.
Untuk kegiatan belajar mengajar pada Kamis (8/10/2026), seluruh sekolah akan menggantinya dengan Pembelajaran Jarak Jauh.
“Suratnya hari ini diterbitkan. Sedang proses,” katanya.
Mukhlis menjelaskan, pengaturan tersebut juga mempertimbangkan pelaksanaan program MBG. Sebelumnya, Dinas Pendidikan telah berkoordinasi dengan pihak terkait yang menangani program tersebut.
Dalam koordinasi itu disampaikan bahwa apabila sekolah akan diliburkan, pemberitahuan perlu disampaikan paling lambat sebelum pukul 12.00 WIB pada hari sebelumnya.
Keputusan mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke PJJ diambil di tengah kondisi udara Dumai yang berada dalam kategori Sangat Tidak Sehat. Kebijakan tersebut sekaligus menjadi langkah untuk mengurangi aktivitas peserta didik di luar rumah selama kondisi kabut asap masih berlangsung. (soe)
































