Scroll untuk baca artikel
DumaiEconomyNasionalRiauScienceTeknologi

Dewan Energi Nasional dan BRIN Tinjau Inovasi Energi Hijau Kilang Dumai, Pertamina Perkuat Komitmen Transisi Energi

×

Dewan Energi Nasional dan BRIN Tinjau Inovasi Energi Hijau Kilang Dumai, Pertamina Perkuat Komitmen Transisi Energi

Sebarkan artikel ini

DUMAI (MDC) – Komitmen PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai dalam mendukung transisi energi nasional terus diperkuat melalui berbagai inovasi dan pengembangan energi ramah lingkungan. Hal tersebut mendapat perhatian Dewan Energi Nasional (DEN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam kunjungannya ke Kilang Pertamina Dumai, Senin (28/9/2026).

Kunjungan tersebut diawali dengan sesi diskusi di Ruang Rapat Main Office Kilang Pertamina Dumai, kemudian dilanjutkan dengan site visit ke sejumlah area kilang. Kegiatan ini menjadi momentum untuk melihat secara langsung berbagai upaya dan inovasi yang dikembangkan Kilang Dumai dalam mendukung agenda transisi energi nasional.

Rombongan DEN dan BRIN dipimpin Anggota Dewan Energi Nasional, Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc. Kedatangan rombongan disambut Pjs Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Isnandhi Dwi Saputra, beserta jajaran manajemen perusahaan.

Dalam sesi diskusi, Isnandhi memaparkan kondisi operasional Kilang Dumai yang berjalan normal dan optimal dengan kapasitas pengolahan mencapai 170 ribu barel per hari (MBSD). Selain menjaga keandalan operasional, Kilang Dumai juga terus mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung agenda transisi energi dan program pemerintah.

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui teknologi co-processing dengan memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.

“Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai terus berinovasi dan melakukan pengembangan energi dalam rangka mendukung transisi energi nasional sekaligus menjaga keberlangsungan penyediaan energi bagi masyarakat,” ujar Isnandhi.

Menurutnya, perjalanan Kilang Dumai dalam pengembangan energi ramah lingkungan telah dimulai sejak 2015. Saat itu, Kilang Dumai menjadi titik awal uji coba co-processing minyak sawit pada unit Diesel Hydrotreating (DHDT).

“Ini menjadi percobaan pertama kilang dalam memproses minyak sawit menjadi bahan bakar. Kemudian kami melanjutkan berbagai penelitian, termasuk dari aspek katalis. Pada 2019, kami berhasil menjadi satu-satunya kilang di Pertamina yang mampu memproduksi Green Diesel atau D100 melalui teknologi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO),” jelas Isnandhi.

Setelah pengembangan Green Diesel, fokus dekarbonisasi Kilang Dumai kemudian diarahkan pada aspek utilitas. Pengembangan teknologi dan produk energi ramah lingkungan juga terus dilakukan di lingkungan Pertamina melalui berbagai fasilitas lainnya.

“Setelah itu, Kilang Dumai lebih difokuskan untuk dekarbonisasi dari aspek utilitas, sementara pengembangan produk kemudian mulai beralih difokuskan di Kilang Cilacap,” jelasnya.

Tidak berhenti pada pengembangan bahan bakar rendah karbon, Kilang Dumai juga terus memperluas pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan dalam mendukung kegiatan operasional.

“Kami mulai memanfaatkan natural gas agar lebih ramah lingkungan. Kami juga terus meningkatkan penggunaan PLTS dan kini kapasitasnya mencapai 3,77 MWp, baik untuk perumahan maupun fasilitas produksi,” tambah Isnandhi.

Dalam kunjungan tersebut, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai juga memaparkan langkah konkret dalam pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui teknologi co-processing dengan memanfaatkan UCO.

UCO diinjeksikan dengan komposisi sebesar 5 persen pada unit Hydrocracker untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya Kilang Dumai dalam menghadirkan produk energi yang lebih rendah emisi sekaligus mendukung kebutuhan transisi sektor transportasi udara.

SAF yang diproduksi di Kilang Dumai juga telah memperoleh sertifikasi standar keberlanjutan global dari International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), yakni ISCC CORSIA dan ISCC EU.

“Dengan adanya produksi ini, Kilang Dumai membuktikan diri sebagai salah satu kilang andalan dalam pengembangan energi ramah lingkungan di Pertamina,” tegas Isnandhi.

Pengembangan tersebut sekaligus menunjukkan perjalanan panjang Kilang Dumai dalam menghadirkan inovasi energi. Dari uji coba co-processing minyak sawit pada 2015, produksi Green Diesel pada 2019, hingga pengembangan SAF berbasis UCO, berbagai inovasi terus dilakukan untuk menjawab tantangan kebutuhan energi sekaligus tuntutan pengurangan emisi.

Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc., mengapresiasi sambutan serta berbagai inisiatif pengembangan energi ramah lingkungan yang telah dilakukan Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai.

Ia mengatakan, pemerintah saat ini tengah serius mendorong pengembangan berbagai sumber energi alternatif sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Salah satunya melalui pengembangan bahan bakar berbasis etanol hingga teknologi coal-to-liquid (CTL) atau pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair.

“Program tersebut merupakan arahan dari Presiden. Hal itu karena dianggap termasuk yang paling cepat untuk menggantikan bensin. Walaupun tentunya tidak begitu saja tercapai, nanti akan disusun roadmap ke depannya,” kata Unggul.

Menurutnya, pengembangan energi alternatif membutuhkan tahapan, kajian dan perencanaan yang matang agar dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Kunjungan DEN dan BRIN ke Kilang Pertamina Dumai menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kesiapan industri dalam menghadapi perubahan lanskap energi. Di sisi lain, bagi Kilang Dumai, momentum tersebut menjadi ruang untuk memperlihatkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan lembaga riset.

Melalui berbagai inovasi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai terus memperkuat peran dalam mendukung transisi energi. Upaya itu dilakukan dengan tetap menjaga keandalan operasional kilang dan keberlangsungan pasokan energi bagi masyarakat.

Langkah tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional sekaligus mendorong pengembangan energi yang semakin berkelanjutan. (soe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *