Scroll untuk baca artikel
NasionalPilihan EditorRagamRiauScience

Transformasi Digital Hulu Migas Antar PHR Raih Upstream Energy Transformation Award di Dataiku Summit 2026

×

Transformasi Digital Hulu Migas Antar PHR Raih Upstream Energy Transformation Award di Dataiku Summit 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA (MDC) – Transformasi digital yang dijalankan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dalam memperkuat keandalan operasi dan mendukung keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi mengantarkan perusahaan meraih Upstream Energy Transformation Award dalam ajang Dataiku Summit 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas upaya PHR memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menjawab tantangan industri hulu migas, terutama dalam mengelola lapangan-lapangan tua (mature field) yang mengalami penurunan produksi secara alamiah.

Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu langkah PHR untuk meningkatkan efisiensi, menjaga keandalan fasilitas, serta mengoptimalkan pengelolaan aset dan operasi produksi.

Sebagai pengelola Wilayah Kerja Rokan di Provinsi Riau, PHR menghadapi tantangan operasi dengan skala besar. Wilayah kerja ini mencakup sekitar 6.200 kilometer persegi di tujuh kabupaten/kota, dengan 80 lapangan aktif, sekitar 11.300 sumur, dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations).

Zona Rokan berkontribusi terhadap sekitar seperempat produksi minyak mentah nasional atau sepertiga produksi minyak Pertamina. Dengan skala operasi tersebut, integrasi data dan pemantauan kondisi fasilitas menjadi bagian penting dalam mendukung efektivitas pengelolaan lapangan migas.

Salah satu inovasi yang diterapkan PHR adalah platform Digital Twin Pipeline, yang memadukan data historis dan data waktu nyata (real-time) untuk memantau tekanan serta integritas jaringan pipa.

Teknologi ini membantu mengidentifikasi anomali operasional, mulai dari penurunan tekanan yang tidak wajar, potensi kebocoran, hambatan aliran akibat scaling atau endapan lilin (wax deposition), hingga ketidakseimbangan operasi antarfasilitas. Pemantauan tersebut memungkinkan potensi gangguan terdeteksi lebih dini sehingga tindak lanjut dapat dilakukan secara lebih terarah.

Selain itu, PHR menerapkan Predictive Maintenance pada peralatan berputar (rotating equipment) dan fasilitas produksi. Sistem ini menganalisis pola kegagalan, memperkirakan umur pakai peralatan, serta memberikan rekomendasi waktu pemeliharaan berdasarkan data operasional.

Penerapan teknologi tersebut ditujukan untuk mengurangi penghentian operasi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown), meningkatkan ketersediaan peralatan, mengoptimalkan biaya pemeliharaan, dan memperpanjang umur aset.

“PHR berkomitmen memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan guna mendukung ketahanan energi nasional,” ungkap Vice President Information Technology PHR, Triatmojo.

Menurut Triatmojo, penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan atas implementasi transformasi digital dan AI di lingkungan PHR, terutama dalam mendukung peningkatan produksi, memperkuat ketahanan operasional, serta menjalankan transformasi teknologi dalam skala besar.

Transformasi digital PHR juga diwujudkan melalui Digital and Innovation Center (DICE), fasilitas pusat pemantauan operasional yang mengintegrasikan berbagai data melalui dasbor digital.

Fasilitas ini mendukung pemantauan sejumlah aspek kegiatan secara langsung, mulai dari proses pengeboran, pengangkatan minyak (lifting), inventaris aset, hingga operasional produksi. Integrasi tersebut membantu menyediakan gambaran kondisi operasi secara lebih menyeluruh sebagai bahan pendukung pengambilan keputusan.

Bagi PHR, digitalisasi tidak sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja berbasis data dan mendorong inovasi. Pendekatan ini penting untuk mendukung pengelolaan lapangan migas yang telah beroperasi selama puluhan tahun, sekaligus menjaga keandalan fasilitas dan keberlanjutan produksi.

PHR merupakan anak perusahaan Pertamina di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Pemerintah Indonesia memberikan amanah pengelolaan Wilayah Kerja Rokan kepada Pertamina sejak 9 Agustus 2021. PHR melanjutkan pengelolaan wilayah kerja tersebut selama 20 tahun, hingga 8 Agustus 2041, setelah proses alih kelola dari operator sebelumnya.

Selain menjalankan kegiatan produksi minyak dan gas bumi, PHR turut mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan lingkungan di sekitar wilayah operasinya.
Sementara itu, Dataiku Summit 2026 mengangkat tema “Transformasi AI Enterprise melalui Kombinasi People, Orchestration, dan Governance untuk Menghasilkan Dampak Bisnis yang Terukur”.

Ajang tersebut menampilkan berbagai studi kasus penerapan AI lintas industri, termasuk pemanfaatan AI Agents, tata kelola AI, serta strategi meningkatkan pengembalian investasi (return on investment/ROI) dari teknologi.

Penghargaan Upstream Energy Transformation Award memperkuat pengakuan terhadap langkah PHR dalam menerapkan transformasi digital di sektor hulu migas. Melalui pemanfaatan AI, integrasi data, dan pemantauan operasional secara digital, PHR terus mendorong peningkatan efektivitas operasi sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan energi nasional. (*/soe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *