PINGGIR (MDC) – Bagi Riyanti, air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga. Kehadirannya sangat berarti, terlebih ia kini harus merawat bayi yang baru lahir. Setiap hari, air dibutuhkan untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, hingga memenuhi kebutuhan sang buah hati.
Namun, selama ini Riyanti, warga Dusun Kayu Kapur, Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, belum memiliki sumber air bersih sendiri. Untuk mendapatkannya, ia bersama warga RT 03 dan RT 04 harus berupaya lebih keras. Ketika hujan turun, air ditampung untuk persediaan. Sebaliknya, saat kemarau datang, mereka harus membeli air dari penjual keliling atau mencari sumber air di sekitar rumah.
Kondisi yang berlangsung cukup lama itu kini mulai berubah. Air bersih yang dahulu harus ditunggu melalui hujan atau dicari ke tempat lain, kini dapat mengalir langsung ke rumah warga melalui Program Air Bersih untuk Kehidupan yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program Community Involvement and Development (CID).
Bagi Riyanti, kehadiran fasilitas tersebut bukan hanya meringankan pekerjaan rumah tangga, tetapi juga memberikan ketenangan dalam memenuhi kebutuhan keluarga, terutama untuk merawat bayi yang baru dilahirkan.
Ia bahkan tidak sekadar menjadi penerima manfaat. Riyanti turut mengambil bagian dalam mewujudkan program tersebut. Mulai dari membantu administrasi, mengoordinasikan warga, hingga menghibahkan sekitar tiga meter persegi tanah miliknya untuk lokasi pembangunan fasilitas air bersih.
“Saya merasa bersyukur dengan adanya program air bersih ini karena sangat bermanfaat bagi saya dan masyarakat sekitar,” ujar Riyanti.
Perubahan ini berawal dari kebutuhan masyarakat yang disampaikan melalui musyawarah Badan Permusyawaratan Desa (BPD) bersama Pemerintah Desa Pinggir. Usulan tersebut kemudian diajukan kepada PHR pada 2025.
Menindaklanjuti aspirasi itu, tim CID PHR melakukan peninjauan lokasi pada November 2025. Asesmen dilanjutkan bersama perangkat desa pada Maret 2026 untuk memastikan kebutuhan dan kesiapan masyarakat.
Proses kemudian bergerak melalui keterlibatan warga. Pada April 2026, sebanyak 25 perwakilan calon penerima manfaat menyepakati komitmen swadaya untuk pemasangan jaringan pipa menuju rumah masing-masing. Kesepakatan ini menjadi bagian penting agar fasilitas yang dibangun tidak hanya menghadirkan akses air bersih, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.
Pada Mei 2026, pengeboran dilakukan dan menghasilkan air jernih dengan debit yang mencukupi. Harapan yang sebelumnya bergantung pada cuaca perlahan menemukan jalannya.
PHR tidak berhenti pada pembangunan sarana fisik. Masyarakat juga dipersiapkan agar mampu mengelola dan merawat fasilitas secara mandiri. Pada Juni 2026, warga mengikuti Workshop Pipanisasi Air Bersih ke Rumah Tangga yang membahas teknik pemasangan dan pemeliharaan jaringan pipa, pembentukan kelompok pengelola, serta manajemen swakelola.
Pendampingan berlanjut pada Oktober 2026 melalui Pelatihan Hidup Bersih, Sehat, dan Kebersihan Lingkungan. Warga mendapatkan pemahaman mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk praktik mencuci tangan yang benar. Pada kesempatan yang sama, sarana air bersih diserahterimakan kepada kelompok pengelola dan masyarakat penerima manfaat untuk dikelola dengan pendampingan pemerintah desa.
Kini, sebanyak 25 orang penerima manfaat langsung di Desa Pinggir dapat menikmati akses air bersih yang mengalir hingga ke rumah. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada air hujan maupun harus bersusah payah mencari dan membeli air untuk kebutuhan sehari-hari.
Perwakilan BPD Desa Pinggir, Lasimin, menyampaikan apresiasi atas hadirnya program tersebut. Ia berharap fasilitas yang telah dibangun dapat dijaga dan dirawat bersama agar manfaatnya terus dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Mewakili masyarakat Desa Pinggir, kami sangat bersyukur atas hadirnya program air bersih ini,” ujarnya.
Bagi PHR, program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan, seiring dengan aktivitas operasional hulu minyak dan gas bumi di Wilayah Kerja (WK) Rokan. Melalui pendekatan CID, perusahaan berupaya mendorong masyarakat agar tidak hanya menerima manfaat pembangunan, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pengelolaan dan keberlanjutannya.
Kolaborasi bersama Dompet Dhuafa, Pemerintah Desa Pinggir, BPD, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan program tersebut.
Sebagai salah satu anak perusahaan Pertamina di bawah Subholding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE), PHR mendapat amanah mengelola WK Rokan sejak 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Wilayah operasi seluas sekitar 6.200 kilometer persegi ini mencakup tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau, dengan 80 lapangan aktif, sekitar 11.300 sumur, dan 35 stasiun pengumpul.
Di tengah perannya menjaga produksi minyak dan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, PHR juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat dengan fokus pada pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.
Di Desa Pinggir, komitmen itu hadir melalui sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: air bersih.
Kini, hujan tak lagi menjadi satu-satunya harapan bagi warga untuk mendapatkan air. Dari sebuah fasilitas yang dibangun melalui kolaborasi, tumbuh pula semangat gotong royong dan kemandirian masyarakat. Sebab, ketika air bersih mulai mengalir ke rumah-rumah, yang ikut mengalir bukan hanya kemudahan hidup, tetapi juga harapan untuk masa depan yang lebih baik. (soe)
































