PEKANBARU (MDC) – Produk kelapa sawit masih menjadi tulang punggung ekspor Provinsi Riau sepanjang Januari hingga Mei 2026.
Komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati yang didominasi produk sawit mencatat nilai ekspor sebesar US$4,69 miliar, meningkat 13,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengatakan kenaikan ekspor komoditas sawit menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekspor nonmigas Riau yang tetap menunjukkan tren positif selama lima bulan pertama tahun 2026.
“Komoditas yang mengalami peningkatan terbesar adalah lemak dan minyak hewan atau nabati dengan kenaikan mencapai US$559,66 juta atau tumbuh 13,54 persen dibandingkan Januari hingga Mei tahun lalu. Komoditas ini masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Riau,” ujar Asep, Rabu (15/7/2026).
BPS mencatat total nilai ekspor Riau pada Januari-Mei 2026 mencapai US$8,60 miliar, atau naik 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Kenaikan tersebut didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 9,37 persen menjadi US$8,26 miliar, meski ekspor migas mengalami penurunan tajam hingga 42,83 persen.
Selain produk sawit, sejumlah komoditas lain juga mencatat pertumbuhan signifikan. Ekspor bahan kimia organik melonjak 74,68 persen menjadi US$452,71 juta, disusul berbagai makanan olahan yang naik 20,20 persen, ampas dan sisa industri makanan meningkat 25,04 persen, serta berbagai produk kimia tumbuh 5,94 persen.
Di sisi lain, komoditas bubur kayu (pulp) menjadi penyumbang penurunan terbesar dengan nilai ekspor turun US$109,38 juta atau 13,67 persen. Penurunan juga terjadi pada ekspor buah-buahan yang merosot hingga 48,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Asep menegaskan, dominasi produk sawit menunjukkan industri hilir berbasis kelapa sawit masih menjadi penggerak utama perdagangan luar negeri Provinsi Riau.
“Dari seluruh ekspor nonmigas Riau, kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati memberikan kontribusi sekitar 56,82 persen. Artinya, lebih dari separuh ekspor nonmigas Riau masih berasal dari komoditas tersebut,” katanya.
Berdasarkan negara tujuan ekspor, Tiongkok tetap menjadi pasar terbesar bagi produk asal Riau dengan nilai mencapai US$1,55 miliar atau sekitar 18,72 persen dari total ekspor nonmigas. Posisi berikutnya ditempati India dengan nilai ekspor US$694,01 juta, disusul Malaysia sebesar US$626,08 juta. Ketiga negara tersebut secara bersama-sama menyumbang 34,71 persen terhadap total ekspor nonmigas Riau.
BPS juga mencatat peningkatan ekspor ke sejumlah negara tujuan utama, di antaranya Tiongkok yang naik 22,22 persen, Amerika Serikat 16,59 persen, Vietnam 17,89 persen, Rusia 9,86 persen, dan Italia 26,46 persen. Sebaliknya, ekspor ke Bangladesh turun 16,93 persen, Belanda 5,16 persen, Malaysia 1,59 persen, serta Filipina 1,64 persen.
Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor utama ekspor Riau dengan porsi mencapai 94,55 persen terhadap total ekspor. Selama Januari hingga Mei 2026, nilai ekspor sektor ini meningkat 9,78 persen, sementara ekspor sektor pertanian mengalami penurunan 11,08 persen. (MCR/dit)































