PEKANBARU (MDC) – Posisi Kota Dumai sebagai salah satu pusat industri, perdagangan, dan logistik di Provinsi Riau kembali diperkuat dengan tingginya realisasi investasi pada Triwulan II Tahun 2026.
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Riau, Dumai menempati peringkat keempat realisasi investasi terbesar di antara kabupaten/kota di Riau dengan nilai mencapai Rp2,5 triliun dari 829 proyek.
Capaian tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa Dumai masih menjadi salah satu daerah tujuan utama investor, terutama berkat keberadaan kawasan industri, pelabuhan internasional, serta aktivitas hilirisasi yang terus berkembang. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi yang masuk ke Kota Dumai juga memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja.
Pada Triwulan II Tahun 2026, investasi di Dumai berhasil menyerap 655 tenaga kerja, terdiri atas 648 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan 7 Tenaga Kerja Asing (TKA).
Data tersebut merupakan bagian dari Rilis Realisasi Investasi Triwulan II dan Semester I Tahun 2026 yang disampaikan DPMPTSP Provinsi Riau. Secara keseluruhan, realisasi investasi Provinsi Riau pada periode April–Juni 2026 mencapai Rp20,23 triliun, meningkat 59,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar Rp12,67 triliun.
Pertumbuhan tersebut juga menempatkan Riau di peringkat kedelapan nasional dalam realisasi investasi sekaligus menjadi provinsi dengan realisasi investasi tertinggi di Pulau Sumatera.
Kepala DPMPTSP Provinsi Riau, Vera Angelika O.K. mengatakan tingginya capaian investasi menunjukkan semakin besarnya kepercayaan pelaku usaha terhadap iklim investasi di Provinsi Riau.
“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa Riau semakin dipercaya sebagai daerah tujuan investasi. Kami akan terus meningkatkan kualitas pelayanan perizinan agar investasi yang masuk semakin besar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dumai Tetap Jadi Magnet Investasi
Berdasarkan realisasi investasi kabupaten/kota, Kota Pekanbaru berada di posisi pertama dengan nilai investasi sekitar Rp4,7 triliun melalui 3.911 proyek. Posisi kedua ditempati Kabupaten Kampar dengan nilai investasi sekitar Rp4,7 triliun dari 647 proyek.
Sementara Kabupaten Pelalawan berada di posisi ketiga dengan investasi sekitar Rp2,5 triliun melalui 403 proyek. Tepat di bawahnya, Kota Dumai menempati peringkat keempat dengan nilai investasi Rp2,5 triliun melalui 829 proyek, lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Bengkalis yang berada di posisi kelima dengan nilai investasi Rp2,1 triliun.
Menurut Vera, capaian tersebut menunjukkan Dumai masih memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi investor.
“Sebagai kota pelabuhan dan kawasan industri, Dumai tetap menjadi salah satu magnet utama masuknya investasi berskala besar dan strategis di Provinsi Riau,” katanya.
Keberadaan pelabuhan internasional, kawasan industri, industri pengolahan, kilang minyak, serta aktivitas ekspor-impor menjadi faktor penting yang terus menarik minat investasi di Kota Dumai.
Investasi Dorong Peluang Kerja
Tidak hanya menghasilkan nilai investasi yang besar, masuknya investasi ke Dumai juga berdampak terhadap terbukanya kesempatan kerja bagi masyarakat.
Secara keseluruhan, realisasi investasi di Riau berhasil menyerap 10.944 tenaga kerja, terdiri atas 10.919 TKI dan 25 TKA.
Untuk tingkat kabupaten/kota, serapan tenaga kerja terbesar berada di Kota Pekanbaru sebanyak 2.652 tenaga kerja, disusul Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 1.923 tenaga kerja, Kabupaten Kampar sebanyak 1.411 tenaga kerja, Kabupaten Bengkalis sebanyak 928 tenaga kerja, Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak 763 tenaga kerja, Kabupaten Pelalawan sebanyak 749 tenaga kerja, dan Kota Dumai sebanyak 655 tenaga kerja.
Meski berada di urutan ketujuh dalam jumlah tenaga kerja yang terserap, nilai investasi Dumai yang mencapai Rp2,5 triliun menunjukkan karakter investasi yang didominasi sektor padat modal seperti industri, energi, pelabuhan, logistik, dan pengolahan, sehingga tetap memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Transportasi dan Industri Jadi Motor Pertumbuhan
DPMPTSP mencatat sektor Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi menjadi penyumbang investasi terbesar di Riau dengan nilai sekitar Rp8 triliun atau sekitar 39 persen dari total investasi. Sektor tersebut menyerap 903 tenaga kerja.
Posisi kedua ditempati sektor Kehutanan dengan investasi sekitar Rp3,8 triliun yang menyerap 1.764 tenaga kerja.
Sementara sektor Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Peternakan mencatat investasi sekitar Rp2,1 triliun dengan penyerapan 1.415 tenaga kerja.
Adapun Industri Makanan menjadi sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, yakni mencapai 3.104 pekerja, meski nilai investasinya sekitar Rp1,4 triliun.
Komitmen Jaga Iklim Investasi
Vera menegaskan Pemerintah Provinsi Riau akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif melalui penyederhanaan proses perizinan, peningkatan kualitas pelayanan, serta penguatan program hilirisasi.
Menurutnya, pemerintah juga terus melakukan identifikasi dan pendataan terhadap produk-produk hilir yang dihasilkan perusahaan PMDN maupun PMA sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
“Harapannya, investasi yang terus tumbuh tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi daerah, tetapi juga memperluas kesempatan kerja, meningkatkan daya saing industri, mendorong hilirisasi, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Provinsi Riau,” tutup Vera.
Bagi Kota Dumai, capaian investasi sebesar Rp2,5 triliun menjadi sinyal positif bahwa kota ini masih menjadi salah satu pintu gerbang investasi terpenting di Riau.
Dengan dukungan kawasan industri, pelabuhan internasional, serta berkembangnya sektor hilirisasi, peluang masuknya investasi baru dan terciptanya lapangan kerja diperkirakan masih akan terus meningkat pada triwulan-triwulan berikutnya. (soe)































