DUMAI (MDC) – Ancaman abrasi masih menjadi persoalan bagi masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir Kelurahan Mundam, Kota Dumai. Gelombang laut yang terus mengikis daratan menjadi pengingat bahwa perlindungan pantai bukan sekadar kebutuhan hari ini, tetapi juga menyangkut keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.
Di tengah tantangan tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai (Kilang Dumai) terus memperkuat upaya pelestarian lingkungan pesisir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Salah satu langkah konkretnya diwujudkan dengan menanam 500 bibit mangrove di sekitar kawasan REDAKSI (Rumah Edukasi Anak Pesisir), Jalan Muslim RT 5, Kelurahan Mundam.
Penanaman dilakukan secara bertahap sejak pertengahan Agustus hingga akhir September 2026, bersama Kelompok Nelayan Tangkap Mundam Jaya yang merupakan kelompok masyarakat mitra binaan Kilang Dumai.
Tidak sekadar menanam, perusahaan juga menerapkan inovasi OSOP (One Seedling One PVC) untuk meningkatkan daya tahan bibit mangrove menghadapi kondisi pesisir. Metode ini menggunakan pelindung berupa potongan pipa PVC berdiameter 4 inci dengan panjang 35 sentimeter yang dipasang pada setiap bibit.
Inovasi tersebut dirancang untuk melindungi tanaman muda dari terjangan ombak ekstrem maupun sampah laut yang terbawa arus, sehingga peluang bibit untuk tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum, mengatakan penanaman mangrove merupakan bagian dari roadmap program TJSL perusahaan dalam memperkuat kawasan pesisir Dumai.
“Penanaman mangrove ini sudah menjadi roadmap program TJSL kami dalam penguatan wilayah pesisir Dumai. Ini merupakan langkah konkret Kilang Dumai untuk memastikan keberlanjutan ekosistem pesisir tetap terjaga, memberikan manfaat ekologis jangka panjang, serta menopang kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Program tersebut merupakan bagian dari keberlanjutan inisiatif TJSL bertajuk Serumpun Lestari: Gerakan Bersama Masyarakat dalam Menjaga Pesisir dan Gambut untuk Negeri yang Tangguh dan Lestari, sebagai transformasi lanjutan dari Program Serumpun Paman Bahri.
Melalui program ini, Kilang Dumai membangun pendekatan terpadu dalam menjaga kawasan pesisir. Upayanya tidak hanya melalui penanaman mangrove, tetapi juga pembangunan Alat Pemecah Ombak (APO), penyediaan fasilitas REDAKSI sebagai pusat edukasi mangrove dan lingkungan pesisir, serta dukungan fasilitas pembibitan (nursery) mangrove untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
Seluruh kegiatan tersebut dijalankan melalui kolaborasi bersama Kelompok Nelayan Tangkap Mundam Jaya dan para pemangku kepentingan terkait. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Bagi warga Mundam, upaya tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar penghijauan pantai. Mereka berhadapan langsung dengan ancaman abrasi yang dapat menggerus daratan sekaligus mengancam permukiman.
Sulaiman (51), Ketua Kelompok Nelayan Tangkap Mundam Jaya, mengatakan perlindungan kawasan pesisir sudah menjadi kebutuhan penting agar lingkungan tempat tinggal masyarakat tetap bertahan hingga anak cucu.
“Bagaimana caranya kita mempertahankan rumah yang ada di pesisir pantai ini untuk berkelanjutan sampai anak cucu. Kalau tidak dicegah, kawasan ini tidak akan bisa bertahan selamanya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, upaya penanaman mangrove di kawasan tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 2023. Namun, hasilnya belum optimal karena belum didukung fasilitas pemecah gelombang atau APO. Bibit yang ditanam masih rentan rusak akibat hantaman ombak.
Kondisi mulai berubah setelah Kilang Dumai memberikan dukungan pembangunan infrastruktur APO melalui program TJSL. Kehadiran fasilitas tersebut membantu melindungi kawasan penanaman sehingga bibit mangrove memiliki kesempatan lebih baik untuk tumbuh.
Pentingnya dukungan infrastruktur dalam penanggulangan abrasi juga disampaikan Section Head Environment–HSSE PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Rachmat Harris Firmansyah, saat memaparkan Strategi Pengelolaan Sampah dan Program Penanggulangan Abrasi dalam Seminar Multipihak yang diselenggarakan Kantor Redaksi Bersama (KRB) Poros Bumi Ayu bersama Yayasan Bumi Alam Hijau di Grand Zuri Dumai Hotel, 22 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, pembangunan APO bertujuan melindungi mangrove yang telah ditanam agar tidak mudah rusak atau hilang akibat terjangan ombak tinggi. Selain itu, pemberdayaan Kelompok Nelayan Tangkap Mundam Jaya diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus percontohan bagi masyarakat pesisir lainnya untuk berperan aktif menjaga lingkungan dari ancaman abrasi.
Komitmen Kilang Dumai dalam memperkuat ekosistem pesisir juga menjangkau kawasan lain di Kota Dumai. Pada 28 Juli 2026, perusahaan menyerahkan bantuan 200 bibit mangrove kepada Kelompok Pegiat Mangrove di kawasan Bandar Bakau Dumai.
Selanjutnya, pada 6 Oktober 2026, perusahaan kembali menyalurkan 100 bibit mangrove kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai bentuk dukungan terhadap upaya perlindungan lingkungan pesisir.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga pesisir membutuhkan kerja bersama dan keberlanjutan. Sebab, mangrove bukan hanya tanaman penahan abrasi, melainkan bagian penting dari ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Dari Mundam, Kilang Dumai bersama masyarakat menanam harapan agar garis pantai tetap terjaga, lingkungan semakin lestari, dan rumah-rumah warga dapat terus berdiri hingga generasi mendatang. (soe)
































