DUMAI (MDC) – Dumai memiliki kekayaan sejarah dan budaya Melayu yang lekat dengan legenda Putri Tujuh. Namun, beberapa tahun lalu, kota pesisir di Provinsi Riau ini belum memiliki wastra khas yang dapat ditampilkan sebagai identitas budaya daerah.
Dari kegelisahan itulah, perjalanan Batik Dumai mulai dirintis hingga berkembang menjadi karya budaya yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Kegelisahan itu dirasakan Hj. Leni Rahmaini, SKM, ketika menghadiri sebuah pertemuan lintas daerah di Pekanbaru beberapa tahun silam. Saat perwakilan kabupaten dan kota lain di Riau dengan bangga memperkenalkan batik khas daerah masing-masing, Dumai belum memiliki karya serupa untuk ditampilkan.
Ada rasa canggung sekaligus dorongan untuk mengubah keadaan. Bagi Leni, Dumai memiliki sejarah dan cerita rakyat yang layak diangkat menjadi identitas visual.
Kekayaan itu seharusnya tidak berhenti sebagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga dapat dituangkan dalam karya seni yang memiliki nilai budaya dan ekonomi.
Tak ingin kegelisahan itu berlarut-larut, Leni yang juga menjabat Ketua TP PKK Kota Dumai mulai menggalang potensi masyarakat. Pada 2024, sebuah langkah awal diwujudkan melalui pembentukan Galeri Batik Dumai di Jalan Putri Tujuh, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur.
Sebanyak 15 warga setempat, yang didominasi ibu rumah tangga, dirangkul untuk belajar membatik.
Bagi sebagian peserta, dunia membatik merupakan pengalaman baru. Mereka belum terbiasa menggunakan canting, mengatur aliran malam, meracik warna, apalagi menjalani proses panjang untuk menghasilkan kain batik berkualitas. Namun, keinginan untuk belajar menjadi modal awal yang menyatukan mereka.
“Saat melihat daerah lain bangga memamerkan batik mereka, ada dorongan kuat di hati saya bahwa Dumai tidak boleh tinggal diam. Kita punya sejarah dan legenda Putri Tujuh yang begitu indah. Saya percaya, jika ibu-ibu di sini diberi kesempatan dan pelatihan yang tepat, jemari mereka pasti mampu menari di atas kain untuk melahirkan karya hebat yang mengangkat martabat,” kenang Leni.
Dari ruang kerja sederhana, para perajin yang akrab menyebut diri sebagai batikers mulai menekuni setiap tahapan produksi. Membatik bukan sekadar menggambar motif di atas kain. Ada ketelitian, kesabaran, dan konsistensi yang harus dijaga sejak memilih bahan, membuat pola, menerapkan motif melalui teknik tulis maupun cap, meracik warna, hingga mengunci warna agar tidak mudah luntur.
Setelah itu, kain melewati proses pelorotan malam, perendaman, penjemuran, hingga pengemasan. Setiap tahapan membutuhkan perhatian agar hasil akhirnya tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki mutu yang dapat diterima pasar.
Inspirasi utama mereka datang dari sejarah dan kekayaan alam Melayu pesisir. Legenda Putri Tujuh serta berbagai kekhasan lokal diterjemahkan menjadi motif yang memberikan karakter tersendiri pada Batik Dumai. Seiring waktu, lebih dari 10 motif khas berhasil diciptakan dan dipatenkan sebagai bagian dari identitas budaya kota.
Perubahan itu mulai terlihat dari hasil produksi. Jika sebelumnya Dumai belum memiliki batik khas daerah, kini Galeri Batik Dumai mampu menghasilkan sekitar 100 lembar kain setiap bulan. Angka tersebut menjadi gambaran perkembangan keterampilan para perajin sekaligus tumbuhnya kapasitas produksi dari kelompok masyarakat yang awalnya belajar membatik dari nol.
Kepercayaan diri para perajin pun tumbuh bersama karya yang mereka hasilkan. Kain batik yang sebelumnya hanya menjadi hasil latihan kini memiliki pasar tersendiri. Permintaan datang dari masyarakat, Aparatur Sipil Negara (ASN), instansi BUMN dan BUMD, lembaga pemerintah, hingga komunitas seni.
Batik Dumai juga mulai memperkenalkan kekhasan budaya daerah ke panggung yang lebih luas. Karya para perajin Teluk Binjai tersebut tampil dalam ajang Fashion Fest International Awards 2025 dan Bangkok Kids International Fashion Week 2025 di Thailand. Kehadiran di dua ajang itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan motif yang terinspirasi dari sejarah dan budaya Dumai kepada khalayak internasional.
Di tengah perkembangan pasar, para perajin tidak berhenti pada produksi kain. Mereka mulai mengembangkan beragam produk turunan agar Batik Dumai dapat menjangkau konsumen dengan kebutuhan berbeda. Selain kain lembaran, batik diolah menjadi busana siap pakai (ready-to-wear), tas jinjing (tote bag), alas meja, serta berbagai suvenir.
Pengembangan produk tersebut membuka peluang usaha yang lebih beragam. Keterampilan membatik tidak hanya menghasilkan karya budaya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi keluarga. Semakin beragam produk yang ditawarkan, semakin terbuka pula kesempatan untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah hasil produksi.
Perjalanan itu masih berlanjut. Pada 8–12 September 2026, para perajin mengikuti pelatihan bertajuk “Membatik Lanjutan”. Pelatihan tersebut menghadirkan instruktur profesional dari Yogyakarta untuk memberikan pendalaman teknik pewarnaan serta eksplorasi variasi teknik membatik.
Materi lanjutan itu diarahkan untuk memperkaya kualitas visual produk sekaligus meningkatkan keterampilan para perajin. Bagi kelompok yang telah melewati tahap awal pembelajaran, penguatan kemampuan menjadi bagian penting agar Batik Dumai mampu menjaga kualitas dan terus mengembangkan desain sesuai kebutuhan pasar.
Leni menilai perjalanan Batik Dumai tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), yang mendampingi pengembangan kelompok tersebut melalui program pemberdayaan masyarakat.
“Batik Dumai di usia remaja ini saya rasa hal yang tidak bisa dilepaskan dari orang tuanya, yaitu PT Pertamina Hulu Rokan. Harapannya, kegiatan hari ini bukan menjadi langkah akhir, tetapi merupakan langkah awal bagaimana nanti Batik Dumai ke depannya bisa lebih berkembang lagi,” ungkap Leni.
Dukungan PHR diwujudkan melalui program Community Involvement and Development (CID). Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembentukan galeri pada 2024, penguatan sarana dan prasarana produksi pada 2025, hingga peningkatan keterampilan melalui pelatihan lanjutan pada 2026.
Bagi PHR, pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah operasinya. PHR merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE), yang mengelola kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.
Pemerintah Indonesia memberikan amanah kepada Pertamina untuk mengelola Wilayah Kerja (WK) Rokan sejak 9 Agustus 2021. Melalui PHR, pengelolaan wilayah seluas sekitar 6.200 kilometer persegi yang mencakup tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau itu dilanjutkan hingga 8 Agustus 2041.
WK Rokan memiliki puluhan lapangan aktif, ribuan sumur, serta fasilitas pendukung produksi minyak dan gas bumi yang berperan penting dalam mendukung kebutuhan energi nasional.
Di tengah peran tersebut, PHR juga menjalankan program sosial yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi masyarakat, dan lingkungan. Pendampingan terhadap Galeri Batik Dumai menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal agar memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.
Rangkaian pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu para perajin meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, dan mengembangkan usaha secara mandiri. Dengan keterampilan yang terus diasah, fasilitas produksi yang mendukung, serta peluang pemasaran yang semakin terbuka, Batik Dumai memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan.
Perjalanan Batik Dumai memperlihatkan bagaimana kegelisahan terhadap belum adanya identitas wastra daerah dapat berubah menjadi gerakan bersama. Dari 15 warga yang mulai belajar membatik, tumbuh kelompok perajin yang kini menghasilkan karya khas, mengembangkan produk bernilai ekonomi, dan membawa motif Dumai ke panggung internasional.
Di atas selembar kain, legenda Putri Tujuh menemukan cara baru untuk diceritakan. Bukan hanya melalui tutur lisan, tetapi juga lewat motif, warna, dan jemari para perajin yang terus bekerja. Batik Dumai pun menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat, dengan perjalanan yang masih terbuka untuk terus berkembang. (*/soe)
































