Scroll untuk baca artikel
DumaiEconomyNasionalTeknologi

Mengubah Sisa Menjadi Asa, Kilang Dumai Menyalakan Masa Depan Energi Hijau

×

Mengubah Sisa Menjadi Asa, Kilang Dumai Menyalakan Masa Depan Energi Hijau

Sebarkan artikel ini
Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, saat memperkenalkan Avtur dari minyak jelantah produksi Kilang Pertamina Dumai, Kamis (15/10/2026). F : PPN Kilang Dumai.

Dari botol-botol minyak jelantah di dapur rumah tangga hingga teknologi pengolahan di kilang, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai membuka jalan bagi pemanfaatan limbah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Sebuah perjalanan yang mempertemukan inovasi industri, kepedulian lingkungan, dan harapan akan masa depan energi yang lebih hijau.

AGUS TRIADI – mediadumai.com / Dumai

USAI memasak, Rini tidak langsung membuang minyak goreng bekas yang tersisa di wajannya. Perempuan yang tinggal di Jalan Rajawali, RT 03, Kelurahan Laksamana, Kecamatan Dumai Kota, itu menuangkan minyak yang telah berubah warna ke dalam wadah, lalu menyimpannya di sudut dapur.

Minyak itu berasal dari berbagai aktivitas memasak. Ada sisa menggoreng ikan, menumis bumbu, hingga menyiapkan hidangan sehari-hari. Jumlahnya tidak banyak. Namun, Rini memilih mengumpulkannya daripada membuangnya ke saluran air atau tempat sampah.

Hari demi hari, minyak jelantah tersebut bertambah. Ketika jumlahnya sudah mencapai beberapa liter, ia dapat menjualnya kepada pengepul di Jalan M. Yamin dengan harga sekitar Rp6.000 per liter.

Nilainya mungkin tidak seberapa dibandingkan kebutuhan rumah tangga. Namun, bagi Rini, minyak bekas itu masih memiliki arti. Selain memberikan tambahan penghasilan, mengumpulkannya menjadi cara sederhana untuk menghindari pembuangan limbah secara sembarangan.

Apa yang dilakukan Rini mungkin terlihat biasa. Ia hanya menyimpan sisa minyak setelah memasak, sesuatu yang sebelumnya mudah dianggap tidak lagi berguna.
Namun, dari kebiasaan sederhana itulah sebuah perjalanan baru dapat dimulai.

Minyak jelantah yang terkumpul di rumah tangga berpotensi menjadi bahan baku bagi industri energi. Ketika dikelola melalui rantai pasok dan teknologi yang tepat, sisa minyak tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Di Kota Dumai, peluang itu mulai diwujudkan melalui inovasi PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai setelah melakukan uji coba pengolahan SAF dengan memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai campuran bahan baku melalui teknologi co-processing.

Keberhasilan tersebut kemudian memasuki babak baru melalui peluncuran produk Pertamina SAF Kilang Dumai pada 15 Oktober 2026.

Peluncuran berlangsung bertepatan dengan kunjungan kerja atau Management Walkthrough (MWT) Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, ke Kilang Dumai.

Contoh produk SAF yang berhasil diproduksi Kilang Pertamina Dumai. F : PPN Kilang Dumai

Momen tersebut menjadi penanda bahwa minyak yang selama ini identik dengan limbah rumah tangga memiliki peluang untuk mengambil peran dalam pengembangan energi masa depan.

Dari dapur sederhana hingga fasilitas pengolahan minyak, ada satu benang merah yang menghubungkan keduanya: sesuatu yang tersisa masih dapat memiliki nilai ketika dikelola dengan pengetahuan, teknologi, dan kepedulian.

Dari Minyak Jelantah Menjadi Bahan Bakar Penerbangan

Perjalanan minyak jelantah menuju produk energi bukan proses yang dapat dilakukan begitu saja. Bahan baku harus dikumpulkan, diperiksa kualitasnya, dan dipastikan memenuhi persyaratan sebelum digunakan dalam proses pengolahan.

Di dalam kilang, teknologi mengambil peran penting untuk mengubah esar 5 persen pada unit Hydrocracker Unibon (HCU) #212.
Melalui teknologi ini, bahan baku terbarukan diproses bersama bahan baku konvensional pada unit pengolahan yang sesuai. Pendekatan tersebut memungkinkan kilang memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk mengembangkan produk berbasis bahan baku alternatif.

Komposisi UCO sebesar 5 persen itu disebut sebagai komposisi bahan baku hayati tertinggi yang telah diterapkan Kilang Dumai melalui teknologi co-processing UCO pada unit HCU #212.

Keberhasilan tersebut memperlihatkan kemampuan para Perwira Kilang Dumai dalam mengembangkan proses pengolahan yang adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri energi.

Namun, keberhasilan uji coba bukanlah akhir dari perjalanan. Setiap produk yang dihasilkan harus memenuhi persyaratan mutu, keselamatan, dan keberlanjutan. Karena itu, pengembangan Pertamina SAF Kilang Dumai juga didukung serangkaian pengujian laboratorium serta sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) EU dan ISCC CORSIA sesuai lingkup sertifikasinya.

Sertifikasi menjadi bagian penting dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Selain karakteristik produk, aspek keberlanjutan juga berkaitan dengan asal-usul bahan baku, ketertelusuran rantai pasok, dan pemenuhan persyaratan yang berlaku.

Tantangan berikutnya adalah memastikan minyak jelantah tersedia secara konsisten, memiliki kualitas yang sesuai, serta dapat ditelusuri sumbernya.

Di sinilah pengembangan SAF membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknologi. Diperlukan sistem pengumpulan yang terorganisasi, dukungan berbagai pihak, dan kesadaran bahwa setiap bahan baku memiliki peran dalam menentukan keberlanjutan proses.

Bagi Kilang Dumai, keberhasilan mengolah UCO menjadi SAF bukan hanya tentang menghadirkan produk baru. Langkah ini juga membuka peluang bagi pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.

Berawal dari Kegigihan Perwira

Peluncuran Pertamina SAF Kilang Dumai dilakukan langsung oleh Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, pada 15 Oktober 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Taufik mengapresiasi kegigihan para Perwira Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai yang berhasil mengembangkan SAF dengan campuran UCO sebesar 5 persen.

Menurutnya, pencapaian itu menunjukkan kemampuan sumber daya manusia Pertamina dalam menjawab tantangan industri energi sekaligus membuka peluang bisnis baru melalui pemanfaatan bahan baku terbarukan.

“Keberhasilan Kilang Dumai dalam mengembangkan SAF dengan UCO 5 persen ini membuktikan bahwa Perwira Pertamina mampu menjawab tantangan dan kebutuhan dunia industri hari ini. Kini, kita fokus dalam strategi bagaimana mendapatkan feedstock yang sustain dan tentunya tersertifikasi, karena ini bisa menjadi revenue industri yang baru di Indonesia,” ujar Taufik.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan kesiapan pasokan bahan baku.
Teknologi dapat membuka jalan bagi pengolahan, tetapi keberlanjutan pengembangan produk bergantung pula pada kemampuan membangun rantai pasok yang memenuhi kebutuhan industri.

Dalam konteks minyak jelantah, rantai tersebut bermula jauh sebelum bahan baku tiba di kilang. Ada rumah tangga yang mengumpulkannya, pengepul yang menyalurkannya, serta sistem pemeriksaan yang memastikan bahan baku sesuai dengan kebutuhan pengolahan.

Setiap mata rantai memiliki peran yang saling melengkapi. Karena itu, pengembangan SAF bukan hanya cerita tentang kemampuan sebuah kilang mengolah bahan baku alternatif. Di baliknya, terdapat peluang untuk menghubungkan kegiatan masyarakat sehari-hari dengan inovasi industri yang lebih luas.

Peluang Baru bagi Industri Energi

Pengembangan SAF menambah portofolio produk yang dihasilkan Kilang Dumai. Selama ini, kilang tersebut memproduksi berbagai produk energi dan turunannya, antara lain solar, avtur, Pertalite, Pertadex, MFO-LS, LSFO, LPG, SF-05, dan Green Coke.

Kehadiran SAF memperluas ruang inovasi, khususnya dalam pemanfaatan bahan baku terbarukan untuk mendukung kebutuhan sektor penerbangan.

Kapasitas produksi SAF Kilang Dumai dilaporkan mencapai 11,3 MBSD, sedangkan Kilang Cilacap memiliki kapasitas 9 MBSD. Dengan demikian, kapasitas yang dilaporkan dari kedua kilang tersebut mencapai total 20,3 MBSD.

Angka kapasitas itu menggambarkan skala pengembangan fasilitas yang dengan sendirinya menunjukkan potensi volume produksi aktual atau jumlah produk yang bisa dipasarkan.

Kilang Dumai juga sebagai kilang pertama di ASEAN yang berhasil mengolah UCO menggunakan unit hydrocracking. Pencapaian ini menjadi bagian dari perkembangan teknologi pengolahan bahan bakar penerbangan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

Pengembangan SAF dengan campuran UCO sebesar 5 persen juga memiliki potensi reduksi emisi karbon hingga 81 persen. Dengan demikian, pemanfaatan minyak jelantah membuka peluang untuk memberikan nilai tambah pada limbah sekaligus memperluas pilihan bahan baku bagi industri energi.

Upaya ini sejalan dengan agenda transisi energi dan target Net Zero Emission (NZE) 2060 yang didukung Pertamina. Di sektor penerbangan, SAF menjadi salah satu alternatif yang dikembangkan untuk membantu menurunkan emisi gas rumah kaca sepanjang siklus hidup bahan bakar.

Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai juga menempatkan pengembangan SAF sebagai bagian dari kesiapan menghadapi arah kebijakan penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan, termasuk target penerapan mandatori SAF sebesar 1 persen mulai 2027 sebagaimana disampaikan perusahaan.

Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan di Dumai tidak berhenti pada penciptaan produk. Ada pekerjaan lebih besar yang harus dilakukan, yakni membangun ekosistem yang menghubungkan bahan baku, teknologi pengolahan, standar keberlanjutan, dan kebutuhan pasar.

Keselamatan dan Keandalan Menjadi Fondasi

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Iwan Kurniawan, mengatakan pengembangan SAF merupakan hasil proses panjang yang dipersiapkan secara menyeluruh.

Persiapan tersebut dilakukan dengan mengedepankan keselamatan, keandalan operasi, tata kelola perusahaan yang baik, serta pemenuhan standar keberlanjutan internasional.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Kilang Dumai adaptif terhadap tantangan transformasi global dan prinsip keberlanjutan. Persiapan yang dilakukan secara matang dan komprehensif, termasuk sertifikasi ISCC yang menjadi bukti bahwa SAF yang dihasilkan dari Kilang Dumai sudah memenuhi persyaratan keberlanjutan dan dapat diterima serta siap diperdagangkan di pasar global,” jelas Iwan.

Bagi industri pengolahan, inovasi tidak cukup hanya berhasil dalam uji coba. Produk yang dikembangkan juga membutuhkan prosedur operasi yang andal, pengendalian mutu, standar keselamatan, serta pemenuhan persyaratan yang berlaku.

Semua itu menjadi fondasi agar pengembangan produk baru dapat dilakukan secara bertanggung jawab, tanpa mengabaikan keselamatan pekerja, keandalan fasilitas, dan perlindungan lingkungan.

Standar keberlanjutan juga membantu memastikan bahwa pemanfaatan bahan baku alternatif disertai perhatian terhadap asal-usul bahan baku dan proses yang dilalui hingga menjadi produk akhir.

Dengan fondasi tersebut, Kilang Dumai terus mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan energi dan perkembangan industri penerbangan.

Menghidupkan Nilai Jelantah

Di luar pagar kilang, perjalanan minyak jelantah dimulai dari aktivitas yang akrab dengan kehidupan masyarakat. Setiap hari, minyak digunakan untuk menyiapkan makanan. Setelah berkali-kali dipakai, sebagian minyak masih tersisa. Jika tidak dikelola dengan baik, sisa tersebut dapat menjadi limbah yang mencemari lingkungan.

Namun, ketika dikumpulkan dan disalurkan melalui mekanisme yang tepat, minyak jelantah berpotensi menjadi bahan baku yang memiliki nilai ekonomi.

Untuk mendukung ketersediaan bahan baku tersebut, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai mengembangkan program JELMA, singkatan dari Jelantah Menjadi Manfaat.

Proyek percontohan program ini dimulai di lingkungan Komperta Bukit Datuk, Dumai, pada 17 April 2026.

Melalui JELMA, masyarakat didorong untuk tidak membuang minyak jelantah sembarangan, melainkan mengumpulkannya agar dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali.

Pengumpulan minyak jelantah melalui program JELMA. F : PPN Kilang Dumai

Program ini juga memperkenalkan cara pandang baru terhadap limbah rumah tangga. Minyak yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat memiliki nilai apabila dikumpulkan, dijaga kualitasnya, dan disalurkan melalui sistem yang sesuai.

Minyak yang diserahkan harus memenuhi ketentuan kualitas, antara lain tidak bercampur air dan bebas dari kotoran yang dapat mengganggu proses pengolahan. Sebagai bentuk insentif, peserta program memperoleh minyak goreng baru sesuai mekanisme yang ditetapkan.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya diajak menjaga lingkungan, tetapi juga dilibatkan dalam upaya membangun rantai pasok bahan baku terbarukan.

Kebiasaan sederhana menyimpan minyak bekas dapat menjadi bagian dari proses yang lebih besar. Dari rumah tangga, minyak dikumpulkan; melalui jalur pengumpulan, bahan baku disalurkan; dan setelah memenuhi persyaratan, minyak tersebut berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan produk energi.

Tentu saja, membangun ekosistem seperti ini membutuhkan konsistensi. Pengumpulan harus berjalan teratur, kualitas bahan baku perlu dijaga, dan asal-usulnya harus dapat ditelusuri sesuai standar yang dipersyaratkan.

Teknologi di dalam kilang menjadi bagian penting dari proses pengolahan. Namun, ketersediaan bahan baku yang memadai tetap menjadi salah satu penentu keberlanjutan pengembangannya.

Karena itu, JELMA memiliki arti lebih luas daripada sekadar program pengumpulan minyak bekas. Program ini membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam menghubungkan pengelolaan limbah dengan kebutuhan industri energi.

Di titik inilah inovasi industri dan kebiasaan masyarakat bertemu. Perubahan besar tidak selalu harus dimulai dengan langkah yang rumit.

Terkadang, ia berawal dari keputusan sederhana untuk tidak membuang sesuatu yang masih berpotensi memberi manfaat.

Menapaki Perjalanan Energi yang Lebih Berkelanjutan

Pengembangan SAF bukan langkah yang berdiri sendiri dalam perjalanan inovasi Kilang Dumai.
Pada 2015, kilang ini telah melakukan uji coba co-processing minyak sawit pada unit Distillate Hydro Treating (DHDT).

Pengembangan berikutnya berlanjut pada 2019 melalui produksi Green Diesel D100 atau Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), yang memanfaatkan bahan baku nabati melalui proses pengolahan tertentu.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam mengembangkan kemampuan pengolahan bahan baku terbarukan. Setiap tahapan memberikan pengalaman teknis sekaligus membuka peluang bagi pengembangan produk yang lebih beragam.

Kini, pemanfaatan minyak jelantah untuk menghasilkan SAF menjadi babak berikutnya.

Jika dahulu minyak bekas lebih banyak dipandang sebagai sisa kegiatan memasak, kini bahan tersebut mulai memperoleh tempat dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Kunjungan Dewan Energi Nasional melihat kesiapan Kilang Pertamina Dumai memproduksi SAF. F : PPB Kilang Dumai

Transformasi menuju operasi yang lebih berkelanjutan juga dilakukan melalui pendekatan lain. Kilang Dumai memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas terpasang yang dilaporkan mencapai 3,77 MWp serta meningkatkan pemanfaatan gas alam untuk mendukung kegiatan operasional.

Berbagai langkah itu menunjukkan bahwa upaya menuju operasi yang lebih berkelanjutan membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari efisiensi energi hingga pengembangan bahan bakar alternatif.

Dalam konteks SAF, manfaat keberlanjutan perlu dilihat sepanjang siklus hidup bahan bakar, termasuk proses pengumpulan bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga penggunaannya.

Dengan demikian, masa depan energi bukan hanya ditentukan oleh produk yang berhasil dihasilkan, tetapi juga oleh cara bahan baku diperoleh, bagaimana teknologi diterapkan, dan sejauh mana seluruh proses dijalankan secara bertanggung jawab.

Dari Sisa, Tumbuh Harapan

Kembali pada botol-botol minyak jelantah di sudut dapur Rini. Bagi sebagian orang, minyak yang telah berubah warna itu mungkin tidak lagi memiliki kegunaan. Setelah fungsinya untuk memasak berakhir, minyak tersebut kerap dianggap sebagai limbah yang harus disingkirkan.

Namun, perubahan cara pandang membuka kemungkinan yang berbeda.

Minyak yang dikumpulkan dari rumah tangga dapat disalurkan melalui rantai pasok, diperiksa kualitasnya, lalu berpotensi dimanfaatkan sebagai campuran bahan baku dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Perjalanan itu memang panjang. Dibutuhkan teknologi, investasi, standar mutu, sertifikasi, pasokan bahan baku yang konsisten, serta kerja sama berbagai pihak Keberhasilan uji coba dan peluncuran produk menjadi langkah penting, sementara pengembangan selanjutnya tetap membutuhkan kesiapan operasional dan dukungan rantai pasok.

Di sinilah arti penting inovasi Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai.

Pengembangan SAF berbasis minyak jelantah memperlihatkan upaya menghubungkan kemampuan teknologi industri dengan potensi bahan baku yang berasal dari kehidupan sehari-hari. Inovasi tersebut juga membuka peluang untuk memberikan nilai tambah pada limbah dan memperluas pilihan bahan baku bagi industri energi.

Di balik proses itu, masyarakat memiliki ruang untuk berkontribusi. Bukan dengan teknologi yang rumit, melainkan melalui kebiasaan sederhana: mengumpulkan minyak jelantah dan menyalurkannya dengan benar.

Bagi Rini, minyak bekas yang terkumpul dapat memberikan tambahan penghasilan. Bagi lingkungan, pengelolaan yang tepat membantu mengurangi risiko pencemaran akibat pembuangan sembarangan. Sementara bagi industri energi, minyak jelantah yang memenuhi persyaratan membuka peluang pemanfaatan bahan baku alternatif.

Ketiganya bertemu dalam satu perjalanan yang sama: mengubah sesuatu yang semula dianggap tidak bernilai menjadi sumber manfaat baru.

Tentu, minyak jelantah bukan satu-satunya jawaban bagi tantangan transisi energi. Namun, inovasi ini menunjukkan bahwa peluang untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dapat ditemukan dari berbagai arah, termasuk dari hal-hal sederhana yang selama ini luput dari perhatian.

Pada akhirnya, energi masa depan tidak selalu harus berawal dari sesuatu yang baru. Terkadang, ia tumbuh dari sesuatu yang hampir dilupakan—dari sisa minyak di dapur, dari kepedulian terhadap lingkungan, dan dari keberanian mengubah cara pandang.

Sebab, selama masih ada kemauan untuk berinovasi, bekerja bersama, dan menjaga keberlanjutan, selalu ada nilai yang dapat ditemukan dari apa yang tersisa.

Dari dapur rumah tangga hingga Kilang Dumai, sebuah perjalanan baru sedang dibangun. Perjalanan yang menunjukkan bahwa perubahan besar dapat bermula dari langkah kecil.

Dan dari sesuatu yang pernah dianggap habis, selalu ada asa yang dapat kembali menyala. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *