DUMAI (MDC) – PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai terus mengembangkan produk energi yang lebih ramah lingkungan. Terbaru, kilang ini berhasil memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar penerbangan berkelanjutan dengan memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai bahan baku campuran.
Peluncuran produk SAF tersebut dilakukan Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, saat kunjungan kerja atau Management Walkthrough (MWT) ke Kilang Dumai, Kamis (15/10/2026).
Produk SAF yang dikembangkan Kilang Dumai menggunakan campuran UCO sebesar 5 persen. Pengolahannya memanfaatkan teknologi Co-Processing UCO di unit Hydrocracker Unibon (HCU) #212, dengan komposisi bahan baku hayati tersebut menjadi yang tertinggi melalui teknologi tersebut. Uji coba pengolahan atau plant trial untuk produksi SAF ini berhasil dilaksanakan pada 25 Juli 2026.
Pengembangan ini menjadi langkah penting Kilang Dumai dalam menghadirkan bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan. SAF dengan campuran minyak jelantah tersebut berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 81 persen.
Kilang Dumai juga mencatatkan pencapaian sebagai kilang pertama di ASEAN yang berhasil mengolah UCO menggunakan unit hydrocracking. Keberhasilan ini memperkuat kemampuan kilang dalam mengembangkan produk energi berkelanjutan melalui pemanfaatan bahan baku alternatif.
Wakil Direktur Utama I PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengapresiasi kerja keras seluruh perwira Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai dalam mengembangkan produk SAF dengan campuran UCO sebesar 5 persen.
“Keberhasilan Kilang Dumai dalam mengembangkan SAF dengan UCO 5 persen ini membuktikan bahwa perwira Pertamina mampu menjawab tantangan dan kebutuhan dunia industri hari ini. Kini, kita fokus dalam strategi bagaimana mendapatkan feedstock yang sustain dan tentunya tersertifikasi, karena ini bisa menjadi revenue industri yang baru di Indonesia,” ujar Taufik.
Untuk memastikan keamanan dan mutu produk, SAF Kilang Dumai telah melalui serangkaian pengujian laboratorium. Produk ini juga telah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) EU dan ISCC CORSIA.
Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari pemenuhan standar keberlanjutan internasional, sekaligus mendukung penerimaan produk SAF di pasar global.
Pengembangan SAF juga merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam mendukung program pemerintah menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Melalui inovasi ini, Pertamina Patra Niaga berupaya mempercepat pengurangan emisi karbon sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.
Langkah tersebut turut mendukung persiapan penerapan mandatori SAF sebesar 1 persen yang ditargetkan mulai berlaku pada 2027. Pengembangan produk di Kilang Dumai menjadi salah satu upaya Pertamina dalam mempersiapkan kebutuhan bahan bakar penerbangan berkelanjutan di dalam negeri.
Dari sisi kapasitas, produksi SAF Kilang Dumai saat ini mencapai 11,3 MBSD, melampaui kapasitas Kilang Cilacap yang sebesar 9 MBSD. Dengan demikian, total kapasitas produksi SAF dari kilang-kilang Pertamina mencapai 20,3 MBSD.
Capaian tersebut menunjukkan kesiapan Pertamina dalam mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan untuk mendukung transisi energi di sektor penerbangan nasional maupun global.
Perkuat Transformasi Energi Kilang
Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Iwan Kurniawan, mengatakan pengembangan SAF merupakan hasil dari proses panjang yang dipersiapkan secara menyeluruh.
Persiapan tersebut mencakup aspek keselamatan, keandalan operasi, tata kelola perusahaan yang baik, hingga pemenuhan standar keberlanjutan internasional
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Kilang Dumai adaptif terhadap tantangan transformasi global dan prinsip keberlanjutan. Persiapan yang dilakukan secara matang dan komprehensif, termasuk sertifikasi ISCC, menjadi bukti bahwa SAF yang dihasilkan dari Kilang Dumai sudah memenuhi persyaratan keberlanjutan dan dapat diterima serta siap diperdagangkan di pasar global,” jelas Iwan.
Kehadiran SAF berbasis campuran minyak jelantah semakin melengkapi portofolio produk energi yang dihasilkan Kilang Dumai. Selama ini, kilang tersebut memproduksi berbagai jenis bahan bakar dan produk turunan, antara lain solar, avtur, Pertalite, Pertadex, MFO-LS, LSFO, LPG, SF-05, dan Green Coke.
Melalui pengembangan SAF, Kilang Dumai tidak hanya memperluas ragam produk, tetapi juga memperkuat peran dalam mendorong pemanfaatan bahan baku alternatif dan pengembangan energi yang lebih berkelanjutan. (*/soe)
































