DURI (MDC) – Gemericik air dari kolam-kolam ikan patin di Kelurahan Babussalam, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, seolah menjadi suara kecil yang mengiringi tumbuhnya sebuah harapan.
Di tempat itu, Kelompok Tunas Mandiri berupaya menjaga usaha budidaya ikan air tawar tetap hidup.
Bagi mereka, kolam bukan sekadar tempat memelihara ikan, tetapi juga ruang untuk membangun sumber penghidupan dan meningkatkan ekonomi keluarga.
Namun, perjalanan menuju panen tidak selalu mudah. Feri Hamdan, Ketua Kelompok Tunas Mandiri, memahami betul tantangan yang selama ini dihadapi anggotanya.
Ketersediaan kolam dan permintaan pasar yang terus meningkat sebenarnya membuka peluang besar untuk mengembangkan budidaya ikan patin. Persoalannya, bagaimana memastikan ikan-ikan tersebut dapat bertahan hingga masa panen.
“Selama ini yang paling kami khawatirkan bukan hanya soal panen, tetapi bagaimana menjaga ikan tetap hidup hingga waktunya dipanen. Serangan jamur dan bakteri sering membuat usaha kami tidak sesuai harapan,” ungkap Feri.
Serangan penyakit, khususnya infeksi jamur dan bakteri, menjadi salah satu persoalan utama. Tingginya angka kematian ikan membuat hasil budidaya belum maksimal.
Kondisi tersebut diperberat dengan keterbatasan pengetahuan anggota kelompok mengenai pengelolaan kualitas air, biosekuriti kolam, pencegahan penyakit hingga penerapan praktik budidaya yang baik.
Di tengah berbagai tantangan itu, semangat Kelompok Tunas Mandiri untuk terus berkembang tidak padam.
Harapan baru kemudian hadir melalui Program Circular Fisheries, sebuah inisiatif PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan perikanan yang produktif dan berkelanjutan.
Program ini menjadi bagian dari komitmen PHR dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan di wilayah operasinya.
PHR merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE), yang mendapat amanah mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021.
Wilayah operasi PHR mencakup sekitar 6.200 kilometer persegi yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau.
Dengan sekitar 80 lapangan aktif, 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul, aktivitas PHR tidak hanya berkaitan dengan produksi minyak dan gas bumi, tetapi juga bagaimana keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Salah satunya diwujudkan melalui penguatan ekonomi masyarakat seperti yang dilakukan bersama Kelompok Tunas Mandiri.
Bukan Sekadar Memberi Bibit
Melalui Program Circular Fisheries, PHR tidak hanya memberikan bantuan sarana produksi, tetapi juga memperkuat kapasitas anggota kelompok agar mampu mengelola budidaya secara lebih baik.
Sebanyak 20.000 ekor bibit ikan patin varietas Pustina diberikan bersama pakan pabrik sebagai bagian dari dukungan pengembangan usaha.
Bantuan tersebut kemudian diperkuat dengan pendampingan dan pelatihan teknik budidaya ikan yang baik atau Good Aquaculture Practices.
Anggota kelompok mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan kualitas air, efisiensi pemberian pakan, pencegahan dan penanganan penyakit ikan hingga manajemen budidaya.
Pendekatan seperti ini menjadi penting dalam program pemberdayaan masyarakat. Sebab, bantuan tidak berhenti pada pemberian sarana produksi, tetapi diarahkan agar masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola usaha secara mandiri.
Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dari perubahan. Keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak bibit yang ditebar, tetapi juga bagaimana ikan dipelihara sejak awal hingga mencapai ukuran panen.
Bagi Tunas Mandiri, pendekatan tersebut memberikan bekal baru untuk mengelola kolam secara lebih terukur.
Semangat gotong royong pun menjadi kekuatan kelompok. Para anggota berbagi peran, mulai dari pemeliharaan kolam, pengelolaan pakan, pencatatan pertumbuhan ikan hingga mempersiapkan pemasaran hasil panen.
Dari aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara sederhana, perlahan tumbuh pola pengelolaan usaha yang lebih sistematis.
Dari 20 Ribu Bibit Menuju Puluhan Ton Panen
Dukungan melalui Program Circular Fisheries membuka potensi ekonomi yang lebih besar bagi Kelompok Tunas Mandiri.
Dari 20.000 ekor bibit ikan patin, kelompok diproyeksikan memiliki potensi produksi hingga 22,5 ton per siklus panen, dengan potensi nilai ekonomi mencapai sekitar Rp495 juta.
Angka tersebut menjadi gambaran bagaimana budidaya ikan dapat berkembang dari usaha masyarakat menjadi sumber ekonomi yang memiliki nilai lebih besar apabila dikelola dengan pengetahuan, teknologi dan pendampingan yang tepat.
Di sinilah pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PHR menemukan bentuknya.
Aktivitas usaha masyarakat didorong agar tidak hanya menghasilkan pendapatan dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki kemampuan untuk terus berkembang setelah pendampingan dilakukan.
Bagi PHR, penguatan ekonomi masyarakat menjadi salah satu bagian dari pelaksanaan program tanggung jawab sosial dan lingkungan di sekitar wilayah operasi.
Selain bidang ekonomi, program sosial dan lingkungan PHR juga mencakup berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan dan lingkungan.
Tak berhenti pada budidaya ikan, konsep Circular Fisheries juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
Salah satunya melalui pemanfaatan limbah dari SPPG sebagai bagian dari sumber pakan ikan, dengan potensi mencapai 75 kilogram per hari atau 2.250 ton per bulan.

Pemanfaatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat, konsep tersebut menghadirkan peluang untuk melihat limbah bukan semata sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan secara produktif dengan pengelolaan yang tepat.
Pemberdayaan Menjadi Kemandirian
Bagi Feri dan anggota Tunas Mandiri, perubahan terbesar bukan hanya terlihat dari jumlah bibit yang ditebar atau potensi nilai panen yang bisa diperoleh.
Ada pengetahuan baru yang kini mereka miliki. Ada cara baru dalam mengelola kolam. Dan yang tidak kalah penting, ada keyakinan bahwa usaha yang mereka bangun bersama memiliki masa depan.
“Sekarang kami memiliki pengetahuan baru, bibit yang lebih baik, dan keyakinan bahwa kolam yang kami kelola bisa menghasilkan panen yang lebih besar. Harapan kami sederhana, semoga usaha ini terus berkembang dan menjadi sumber penghidupan yang lebih baik bagi keluarga kami,” ujar Feri.
Harapan itu kini tumbuh bersama ikan-ikan patin yang bergerak di dalam kolam.
Satu per satu bibit dipelihara. Kualitas air dijaga. Pakan dikelola. Pertumbuhan dicatat. Penyakit diantisipasi. Semua dilakukan dengan satu tujuan: membawa ikan hingga masa panen dan menjadikan hasilnya sebagai sumber penghidupan yang lebih baik.
Di sisi lain, perjalanan panjang PHR dalam mengelola Zona Rokan juga terus berjalan. Setelah mengambil alih pengelolaan Wilayah Kerja Rokan pada 9 Agustus 2021, PHR mendapat mandat mengelola wilayah tersebut selama 20 tahun hingga 8 Agustus 2041. Produksi minyak dan gas bumi tetap menjadi bagian utama dari amanah tersebut.
Namun, di tengah aktivitas industri hulu migas berskala besar itu, tumbuh pula cerita-cerita kecil tentang masyarakat yang berupaya memperkuat kehidupannya melalui usaha sendiri. Salah satunya adalah kolam-kolam patin milik Kelompok Tunas Mandiri.
Melalui Program Circular Fisheries, PHR terus mendorong pengembangan kapasitas masyarakat melalui pendampingan, peningkatan keterampilan dan penguatan kelembagaan kelompok.
Bagi Kelompok Tunas Mandiri, perjalanan tersebut bukan sekadar tentang menghasilkan ikan patin.
Lebih jauh, ini adalah tentang bagaimana sebuah kolam dapat menjadi awal dari perputaran ekonomi, dari bibit menjadi ikan, dari kolam menjadi pendapatan, dan dari pendampingan menjadi kemampuan masyarakat untuk tumbuh secara mandiri.
Di Kelurahan Babussalam, gemericik air kolam pun terus terdengar. Menjadi penanda bahwa harapan itu masih tumbuh, bersama usaha masyarakat yang perlahan menemukan jalannya menuju keberlanjutan. (soe)
































