DUMAI (MDC) – Minyak jelantah yang selama ini identik dengan limbah dapur ternyata menyimpan potensi lebih besar daripada sekadar sisa aktivitas memasak. Di tengah upaya dunia menekan emisi karbon, minyak bekas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku untuk menghasilkan Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang menjadi bagian dari transformasi energi sektor aviasi.
Foto : Dok.Hendry. K/MDC
Metadata Foto : 24 Juli 2024, Oppo Reno 10 5G, F/2, S 1/250, ISO 250
Peluang inilah yang membuat pengembangan SAF menarik untuk dicermati di industri pengolahan minyak dan gas, termasuk di PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Dumai, Riau. Kota yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri pengolahan minyak di Indonesia itu memiliki potensi untuk mengambil bagian dalam pengembangan energi penerbangan yang lebih berkelanjutan.
Sustainable Aviation Fuel merupakan bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari bahan baku alternatif yang memenuhi persyaratan teknis dan keberlanjutan. Bahan bakunya dapat berasal dari minyak nabati, minyak jelantah, limbah tertentu, maupun sumber lain yang memenuhi ketentuan teknologi produksi dan sertifikasi yang berlaku.
Berbeda dengan avtur konvensional yang berasal dari minyak bumi, SAF dapat dihasilkan melalui proses pengolahan bahan baku alternatif menjadi hidrokarbon yang memenuhi spesifikasi bahan bakar penerbangan.
Foto : Hendry.K/MDC
Metadata Foto : 08 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S1/250, ISO 500
Langkah Kilang Dumai memperoleh momentum penting ketika produk SAF diperkenalkan dalam kegiatan Management Walkthrough pada Kamis, 15 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, meluncurkan SAF hasil pengembangan Kilang Dumai.
“Keberhasilan Kilang Dumai dalam mengembangkan SAF dengan UCO 5 persen ini membuktikan bahwa Perwira Pertamina mampu menjawab tantangan dan kebutuhan dunia industri hari ini. Kini, kita fokus dalam strategi bagaimana mendapatkan feedstock yang sustaint dan tentunya tersertifikasi, karena ini bisa menjadi revenue industri yang baru di Indonesia,” ujar Taufik.
Executive General Manager RU Dumai, Iwan Kurniawan, menilai keberhasilan ini sebagai bagian dari kesiapan kilang menghadapi perubahan industri energi sekaligus memperkuat prinsip keberlanjutan.
Foto : Hendry.K/MDC
Metadata Foto : 08 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S1/80, ISO 640
Kilang Dumai dilaporkan memiliki kapasitas produksi SAF sebesar 11,3 MBSD atau 11.300 barel per hari, sedangkan Kilang Cilacap memiliki kapasitas 9 MBSD. Secara gabungan, kapasitas yang disebutkan mencapai 20,3 MBSD. Angka kapasitas tersebut perlu dipahami sesuai dasar perhitungan dan cakupan fasilitas yang dimaksud, bukan otomatis sebagai volume aktual SAF yang diproduksi setiap hari.
Pengembangan SAF juga memiliki potensi pengurangan emisi karbon hingga 81 persen berdasarkan perhitungan dan metodologi yang digunakan. Potensi ini tetap bergantung pada bahan baku, proses produksi, kebutuhan energi, serta batasan perhitungan emisi sepanjang siklus hidup bahan bakar.
Foto : Hendry.K/MDC
Metadata Foto : 20 Oktober 2026, Nikon D7200, F/4, S 1/50, ISO 100
Bagi masyarakat yang selama ini menekuni usaha pengumpulan minyak jelantah, pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Kilang Pertamina Patra Niaga RU Dumai membuka harapan baru. Limbah minyak bekas memasak yang sebelumnya dikumpulkan dari rumah tangga dan pelaku usaha kuliner berpotensi memiliki nilai lebih besar jika kebutuhan industri terhadap bahan baku tersebut terus berkembang.
Adi, masyarakat yang tinggal di Kelurahan Bukit Batrem Kota Dumai, saat mendapatkan informasi ini menyampaikan bahwa mereka berada di garis awal pengumpulan minyak jelantah sebelum bahan tersebut disortir, diperiksa kualitasnya, dan disalurkan kepada pengolah yang memenuhi persyaratan.
Meski demikian, peluang itu masih bergantung pada kepastian kebutuhan industri, harga pembelian, standar kualitas, dan mekanisme penyaluran yang jelas, ujar Adi
Foto : Hendry.K/MDC
Metadata Foto : 20 Oktober 2026, Nikon D7200, F/3.5, S 1/80, ISO 1000
Bagi pelaku usaha kecil, kepastian harga menjadi salah satu faktor penting. Mereka berharap pengembangan SAF tidak hanya menjadi inovasi di lingkungan industri kilang, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang selama ini menjalankan usaha pengumpulan minyak jelantah.
Harapan lainnya adalah terbukanya akses bagi pengepul lokal untuk terlibat dalam rantai pasok industri. Dengan demikian, manfaat inovasi energi berkelanjutan dapat menjangkau lebih banyak pihak, termasuk masyarakat kecil yang selama ini bergerak di sektor pengumpulan limbah.
Pada akhirnya, nilai penting SAF tidak hanya terletak pada bahan bakar yang dihasilkan, tetapi juga pada perubahan pendekatan dalam memanfaatkan sumber daya. Limbah yang sebelumnya kurang bernilai dapat menjadi bagian dari rantai pasok energi, sementara industri pengolahan memiliki peluang untuk mengembangkan teknologi yang mendukung transisi energi. (Toy)
































