DUMAI (MDC) – Kondisi abrasi di wilayah pesisir Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, kian mengkhawatirkan. Pengikisan daratan yang terjadi dari tahun ke tahun tidak hanya mengancam permukiman warga, tetapi juga merusak infrastruktur jalan pesisir serta menghanyutkan kebun-kebun milik masyarakat.

Kelurahan Mundam menjadi wilayah yang mengalami dampak paling parah. Di kawasan ini, laju abrasi tercatat sangat signifikan, dengan pengikisan garis pantai yang mencapai sekitar lima hingga tujuh meter per tahun. Kondisi tersebut menyebabkan daratan terus menyusut dan mengubah bentang alam pesisir secara drastis.
Dampak abrasi tidak hanya terlihat dari hilangnya puluhan meter garis pantai dan tenggelamnya pohon-pohon kelapa. Gelombang laut yang terus menggerus daratan juga menyebabkan runtuhnya badan jalan umum serta mengancam permukiman yang tinggal di sepanjang bibir pantai.
Pemerintah Provinsi Riau sebenarnya telah melakukan berbagai upaya penanggulangan abrasi sekitar tahun 2018 melalui pembangunan tanggul pantai di sejumlah wilayah Kecamatan Medang Kampai, meliputi Kelurahan Pelintung, Guntung, Teluk Makmur, dan Mundam.
Namun, setelah lebih dari dua dekade berjalan, pembangunan tanggul baru tuntas di sebagian kawasan Guntung dan seluruh pantai Teluk Makmur. Sementara itu, Kelurahan Mundam yang menjadi salah satu titik abrasi terparah hingga kini masih menunggu realisasi pembangunan tanggul yang selama ini baru sebatas rencana.
Ahmad (66), salah seorang warga Mundam, menjadi saksi hidup bagaimana abrasi perlahan menghapus jejak kehidupan masyarakat pesisir.
“Rumah dan tanah warisan orang tua saya habis ditelan laut. Sebelum tahun 1970-an, abrasi belum separah ini. Tapi sejak hutan mangrove ditebang sembarangan, pantai tidak lagi memiliki penahan ombak,” tuturnya.
Kisah Ahmad bukanlah kasus tunggal. Banyak warga kini memiliki apa yang mereka sebut sebagai “surat tanpa tanah”, sertifikat kepemilikan masih tersimpan, namun lahan yang tercatat di dalamnya telah berubah menjadi lautan.
Camat Medang Kampai, Indra Syafawi, (dumaipos, 27 Oktober 2025) mengakui bahwa Kelurahan Mundam merupakan kawasan dengan tingkat abrasi paling parah di pesisir Dumai. Menurutnya, garis pantai di wilayah tersebut terus mundur dengan laju lebih dari lima hingga tujuh meter setiap tahunnya.
Bagi masyarakat setempat, abrasi bukan sekadar kehilangan sebidang tanah. Fenomena ini juga berarti hilangnya sumber penghidupan dan masa depan. Warga kini hidup dalam bayang-bayang ancaman laut yang semakin mendekat, sementara sisa kebun dan lahan yang mereka miliki perlahan lenyap diterjang gelombang.
Di tengah kondisi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Regional Dumai melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupaya memberikan kontribusi dalam penanganan abrasi. Salah satu program yang dijalankan adalah pemasangan Alat Pemecah Ombak (APO) berbahan ban bekas sepanjang 200 meter di Kelurahan Mundam.
Program ini menjadi salah satu langkah mitigasi yang diharapkan mampu mengurangi energi gelombang laut sekaligus mendukung upaya perlindungan kawasan pesisir.
Mundam kini menjadi bukti bahwa penanganan abrasi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Dari masyarakat yang menjaga lingkungan, perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosial, hingga pemerintah yang menghadirkan kebijakan dan pembangunan infrastruktur. Dengan kerja sama yang berkelanjutan, harapan untuk menyelamatkan pesisir dan masa depan warga masih tetap terbuka.































